Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Maret 2019 | 19.35 WIB

Nonton Harry Potter and the Cursed Child di Palace Theatre, London

Adegan di Kings Cross membuka drama Harry Potter and the Cursed Child yang dipentaskan di Palace Theatre, London. - Image

Adegan di Kings Cross membuka drama Harry Potter and the Cursed Child yang dipentaskan di Palace Theatre, London.


Produksi teater Harry Potter and The Cursed Child memborong enam trofi pada Tony Awards 2018. Termasuk kategori tertinggi Best Play alias drama terbaik. Wartawan Jawa Pos Retna Christa yang menontonnya di London pekan lalu akhirnya mengerti mengapa drama tersebut disambut sangat positif. Baik oleh publik maupun kritikus.


---


POTTERHEAD -begitulah die hard fans Harry Potter menjuluki diri mereka- di seluruh dunia mengalami ''perpecahan'' sengit pada 2016. Tepatnya ketika buku naskah teater Harry Potter and the Cursed Child dirilis. Edisi pertama buku itu dilepas ke publik pada 31 Juli, sehari setelah dramanya pentas perdana di London.


Drama yang ditulis Jack Throne, John Tiffany, dan J.K. Rowling itu berkisah tentang 19 tahun setelah event di Harry Potter and the Deathly Hallows.


Tentang Harry Potter dan anaknya, Albus Severus, yang sudah masuk usia sekolah di Hogwarts.


Ceritanya kompleks. Melibatkan time turner dan tokoh baru yang aneh. Kesannya diada-adakan. Secinta-cintanya fans pada dunia Harry Potter, pasti ada yang berpendapat bahwa drama ini tidak perlu ada. Soalnya ceritanya maksa. Itu termasuk saya sih.


Namun, ketika berkunjung ke London pekan lalu, saya penasaran juga. Seperti apa sebenarnya drama yang sudah diekspor ke Broadway (New York), Melbourne, Hamburg, dan yang terbaru, San Francisco, tersebut. Baru kemarin tiket presale untuk produksi San Francisco dijual dan langsung bikin situs penyedia tiket crash saking banjirnya permintaan.


Harry Potter and the Cursed Child dipentaskan di Palace Theatre, Shaftesbury, London. Setiap hari digelar pertunjukan dua babak. Kecuali Kamis, yang hanya mementaskan babak pertama, dan Jumat, hanya babak kedua.


Masing-masing babak berdurasi sekitar 2,5 jam. Panjang banget. Dalam setiap babak ada interval 15 menit. Kita bisa pipis atau reload minuman serta camilan di bar. Nah, antara babak pertama dan kedua diberi jarak 2,5 jam. Penonton biasanya mengisi jeda waktu itu untuk makan malam di sekitar teater.


Dari blog-blog yang saya baca, penonton teater disarankan datang sejam sebelum pintu dibuka pukul 13.00 waktu setempat. Sebab, kalau telat sedikit, antreannya gila. Antrean itu bisa mengular mengelilingi seluruh sisi teater! Dan memang benar. Waktu saya berkunjung, teater berkapasitas 1.400 tempat duduk itu full house. Padahal bukan weekend.


Di tengah antrean itu, ada sosok Nypmh O'Hara. Cewek Irlandia tersebut kuliah di Liverpool. Perlu perjalanan selama 5 jam naik bus bagi dia untuk mencapai London. Dia pun khusus ke London untuk nonton Cursed Child. Selama menunggu pintu dibuka, berkali-kali dia berseru, "Oooh I'm so excited!"


Nymph sudah lama kepengin nonton drama itu. Dia termasuk Potterhead yang tidak setuju saga Harry Potter yang berakhir di buku ketujuh dilanjutkan. "Memang menurutku kisahnya mengada-ada. Tapi, mungkin karena memang dirancang sebagai naskah teater, nggak semua penggemar bisa menerima," ujarnya berpendapat.


Nah, ketika akhirnya sukses masuk ke teater (dan disambut kios merchandise yang menggiurkan), siapa pun yang membenci kisah Cursed Child akan berubah pikiran. Produksi drama ini juara banget! Sangat seru, lucu, dan menghanyutkan. Dialog-dialog yang di buku bikin dahi mengernyit dibawakan dengan sangat brilian oleh aktor-aktornya.


Adegan dibuka dengan setting Stasiun King's Cross pada 1 September. Harry dan Ginny, Ron dan Hermione, serta Draco Malfoy bersiap mengantar anak mereka berangkat ke Hogwarts. Naik Hogwarts Express. Dialognya persis dengan epilog Deathly Hallows. Bedanya, yang di panggung bukan Daniel Radcliffe, Emma Watson, dan Rupert Grint. Melainkan aktor-aktor teater top Inggris.


Jamie Ballard (Harry Potter), Thomas Aldridge (Ron Weasley), dan Franc Ashman (Hermione Granger) memberikan interpretasi yang berbeda terhadap peran-peran yang telah kita kenal selama 10 tahun. Harry versi Ballard, misalnya, lebih meledak-ledak. Terlihat sekali, fatherhood membuat dia sangat stres. Ron, sementara itu, jadi bapak-bapak banget. Perutnya buncit. Pembawaannya lebih jenaka daripada versi film.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore