Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 24 Januari 2017 | 22.30 WIB

Mengikuti Perjalanan KRI Ahmad Yani Menuju ”Medan Tempur” Karimunjawa

SIGAP: Anggota TNI AL berlatih di Laut Karimunjawa. - Image

SIGAP: Anggota TNI AL berlatih di Laut Karimunjawa.



Kalau tidak terbiasa, mau mandi rasanya malu-malu kucing. Tapi, mau bagaimana lagi. Kalau tidak mandi, keringat yang menempel di badan bakal mengganggu aktivitas karena risi. Ya sudah. Mandi bareng anggota akhirnya terlaksana dengan khidmat.



Ketika makan malam, kami mendapat kesempatan makan bersama perwira menengah. Di antaranya, Komandan Satuan Kapal Eskorta (Dansatkor) Kolonel Laut (P) Aryantyo Condrowibowo selaku wakil komandan latihan (Wadanlat) 1 dan Kolonel Laut (P) Anung Sutanto selaku wakil komandan latihan (Wadanlat) 2. Juga, Kolonel Laut (P) Mulyadi selaku kepala pengawas pengendali (Kawasdal) latihan serta Letkol Laut (P) Seno Ario Wibowo yang bertindak sebagai perwira staf operasi (Pasops) latihan.



Sempat grogi ketika makan malam bersama pejabat matra laut. Sebab, itu merupakan pengalaman pertama makan satu meja bersama pejabat TNI-AL. Setelah mengambil nasi, lauk, dan air minum, kami duduk satu meja bersama perwira menengah. Kursi digeser perlahan. Lalu, duduk tegap.



”Mohon izin makan, Ndan” seolah menjadi kalimat sakral sebelum makan. Setelah doa tentunya. Semua anggota selalu mengucapkan kalimat tersebut. Etika makan harus benar-benar dijaga. Jangan sampai makan sebelum izin komandan.



Setelah makan, kami berbincang ringan bersama para perwira. ”Sudah pernah naik kapal perang?” tanya Letkol Seno.



Dengan tegas, saya menjawab, ”Siap, ini pengalaman pertama saya, Ndan.”



”Wah, hati-hati mabuk laut ya,” canda Letkol Seno, lantas tertawa, yang membuat suasana semakin cair.



Selesai makan malam, kami kembali ke kamar tidur bintara yang susun tiga tadi. Ombak tenang mengantarkan kami ke dalam mimpi indah.



Jumat (20/1), pukul 05.30, para prajurit bergegas menuju dek kapal. Kami yang baru terjaga mengikutinya sambil membawa ”alat tempur” berupa kamera DSLR lengkap dengan lensa pendukungnya. Sementara itu, para prajurit membawa alat tempur berupa senjata laras panjang jenis AK 47.



Di atas dek buritan, ada seorang prajurit yang tertembak di bagian badan dan kaki. Lalu, tim medis Koarmatim mengevakuasi korban ke dalam helikopter. Ternyata itu hanya skenario. Ceritanya, heli sedang mengevakuasi seorang prajurit yang tertembak dalam pertempuran di perairan Karimunjawa.



Ya, kami sudah sampai di Karimunjawa. Di atas dek buritan KRI Ahmad Yani, terlihat keindahan Pulau Karimunjawa dari kejauhan. Warna hijau pepohonan menyelimuti pulau yang berada di wilayah Provinsi Jawa Tengah tersebut.



Setelah skenario evakuasi, kami sarapan. Kali ini, kami diminta sarapan di lounge room bersama perwira. Seperti biasa, kalimat sakral ”Mohon izin makan, Ndan” harus diucapkan sebelum menyantap makanan.



Ketika sarapan satu meja bersama Komandan KRI Ahmad Yani Letkol Laut (P) Setyawan berlangsung, ombak setinggi 1 meter mengguncang lambung kapal. Rasa mual mulai terasa. Maklum, pengalaman pertama berlayar di kapal perang.



Pukul 10.00, semua kapal perang bersiap menembakkan meriam. Yakni, KRI Fatahillah, KRI Tongkol, KRI Hiu, KRI Ajak, KRI Sura, dan KRI Ahmad Yani tentunya. Yang menjadi sasaran tempur adalah pulau gundul.



Suara dentuman meriam kaliber 120 milimeter KRI Fatahillah terdengar pelan. Jarak KRI Ahmad Yani dan KRI Fatahillah sekitar 500 yard. Jadi, suara meriam dari kapal kelas corvette itu tidak terlalu terdengar keras.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore