JEJAK PERANG DUNIA II: Komunitas pemerhati sejarah Roode Brug Soerabia mengidentifikasi mesin baling-baling pesawat yang ditemukan nelayan di Gresik kemairn (25/7).
Baling-baling yang ditemukan di perairan Gresik diduga kuat berasal dari pesawat milik Belanda yang ditembak Jepang. Butuh sekitar 11 jam untuk mengevakuasi temuan yang sampai kemarin teronggok di TPI itu dari jaring nelayan penemu.
LUDRY A.W. PRAYOGA, Gresik
---
DARI Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pesawat itu berangkat ke Surabaya, Jawa Timur. Terbang malam, menyusuri pantai, dengan tujuan patroli laut.
Tapi, musuh menyergap. Pesawat dengan enam kru tersebut ditembak dan jatuh di perairan sekitar Selat Madura. Empat orang di antaranya tewas.
Demikianlah Bureau of Aircraft Accidents Archives (BAAA) mencatat kejadian pada malam 11 Februari 1942 tersebut. Di perairan yang sama, terdapat tiga pesawat sejenis yang jatuh selama masa Perang Dunia II. ”Yang paling mendekati adalah pesawat dengan nomor lambung X-29,” beber Wahyu Udanto, pemerhati sejarah dari komunitas Roode Brug Soerabaia, kepada Jawa Pos kemarin (25/7).
Yang dimaksud Wahyu adalah pesawat yang bangkai baling-balingnya ditemukan di pantai Kecamatan Panceng, Gresik, Jawa Timur, Sabtu (22/7) lalu. Surabaya dan Gresik yang bertetangga sama-sama berada di tepian laut yang terkoneksi.
Pesawat tersebut tercatat milik Angkatan Laut Belanda dan dioperasikan di Hindia Belanda atau Indonesia kini. Mengutip data dari BAAA, yang menembak jatuh pada 81 tahun silam adalah pasukan Jepang.
Pesawatnya sendiri buatan Jerman dan diproduksi antara 1937–1945. Angkatan Laut Belanda yang termasuk paling banyak membeli dan mengoperasikannya untuk menggantikan tipe Dornier Wals yang bermesin ganda.
Hingga kemarin, baling-baling pesawat tersebut masih tergeletak di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dusun Karang Tumpuk, Desa Campurejo, Kecamatan Panceng. Sejak ditemukan pada Sabtu lalu, beberapa pihak telah melakukan pemeriksaan. Termasuk para komunitas pemerhati sejarah.
Wahyu menambahkan, pihaknya juga mendapati plakat kecil bertulisan bahasa Jerman. Di dalamnya berisi nomor mesin dan identitas pesawat. ”Diketahui jenis pesawat Dornier DO.24,” terangnya.
Pesawat tersebut biasa digunakan untuk patroli, survei, atau pengintaian. ”Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda kerap membeli peralatan dari Jerman. Salah satu tujuannya untuk memperkuat pertahanan militer,” bebernya.
IDENTITAS TERBACA: Ady Setyawan, pemerhati sejarah dari Roode Brug Soerabaia menemukan nomor seri mesin pesawat yang tertera di exhaust machine identik dengan Dornier DO.24.
Pesawat jenis tersebut bermesin tiga. Dan, terakhir dioperasikan pada 1967 oleh Angkatan Udara Spanyol.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
