Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 Februari 2017 | 00.28 WIB

Kegigihan Nissa dan Ibang Merintis Pesantren ’’Ekologi’’ Ath Thaariq di Garut

MERDEKA PANGAN: Ibang dan Nissa bersama para santri di lahan perkebunan mereka di kompleks Pesantren Ath Thaariq, Garut. - Image

MERDEKA PANGAN: Ibang dan Nissa bersama para santri di lahan perkebunan mereka di kompleks Pesantren Ath Thaariq, Garut.


Sudah satu dekade ini Nisya Saadah Wargadipura dan Ibang Lukman Nurdin memberdayakan petani di Tanah Pasundan. Uniknya, cara yang dipakai, antara lain, dengan mendirikan pesantren yang mengedepankan aktivitas pertanian sebagai basis pendidikannya.





SAHRUL YUNIZAR, Garut





LEPAS petang, kumandang azan sayup-sayup terdengar di Pesantren Ath Thaariq di Kampung Cimurugul, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Para santri di pesantren yang terletak di tengah hamparan sawah itu mulai mengisi saf-saf masjid.



Santri tetap di pesantren tersebut memang tidak banyak. Hanya 30 orang yang menginap. ’’Tidak boleh lebih,’’ ucap Nisya Saadah Wargadipura saat ditemui Jawa Pos, Minggu (29/1).



Perempuan yang akrab dipanggil Nissa itu adalah istri Ibang Lukman Nurdin. Keduanya merupakan pendiri Pesantren Ath Thaariq, pesantren berbasis ekologi yang berdiri sejak 2008.



Selain mengaji dan belajar bertani, para santri di Ath Thaariq setiap hari menjalani pendidikan formal di sekolah umum dan universitas. Ada yang masih SMP, SMA, dan bahkan mahasiswa yang mondok di pesantren itu. Namun, pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional, mereka full di pesantren untuk berkebun dan beternak.



Sejatinya, kompleks Pesantren Ath Thaariq tidak begitu luas. Lahannya hanya 8.500 meter persegi. Meski begitu, para santrinya justru bisa berfokus untuk menyerap banyak ilmu Alquran dan ilmu terapan.



Dengan luas terbatas, Nissa bersama Ibang, sang suami, membagi lahan pesantren dalam dua zona. Yakni, zona pertanian dan zona peternakan. Di dua zona tersebut ada area untuk beternak ikan dan unggas. Ada pula tempat pembibitan dan area untuk kebutuhan pertanian lain. Lalu, ada bangunan utama yang dijadikan tempat tinggal keluarga Nissa-Ibang sekaligus untuk tempat tidur bagi para santri.



Nissa dan Ibang memang tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian atau peternakan. Namun, pengetahuan mereka soal cara bertani dan beternak patut diacungi jempol. Buktinya, mereka mampu mengolah lahan di Pesantren Ath Thaariq dengan baik. Pertanian yang mereka kembangkan nyaris tidak pernah gagal panen. Kualitas panenannya juga tergolong bermutu. Begitu pula bibit unggul yang mereka produksi.



Paling tidak, pengakuan itu tidak hanya datang dari kalangan pertanian dalam negeri. Sejumlah peneliti asing juga menyatakan ketakjuban mereka. Misalnya, yang pernah diungkapkan peneliti dari Thailand dan Filipina yang secara khusus ’’mondok’’ di Pesantren Ath Taariq untuk menimba ilmu agroekologi.



Agroekologi adalah sebuah sistem yang memanfaatkan keragaman hayati untuk mendukung pertanian. Misalnya, untuk melawan hama tikus, para santri membiarkan predator tikus seperti ular untuk berkembang di lingkungan pesantren.



Menurut Nissa, selama ini pesantren tidak pernah membasmi hama dengan bahan kimia. ’’Biarkan saja rumah-rumah ular itu ada. Biar ular-ular itu nanti yang memangsa hama tikus,’’ katanya santai. Dengan cara begitu, ekosistem di lahan pertanian itu pun tetap terjaga.



Berkat keyakinan dan perjuangannya menjaga ekosistem pertanian selama ini, Nissa mendapat apresiasi dari pegiat dunia pertanian. Belum lama ini, dia memperoleh beasiswa belajar A-Z Agroecology and Organic Food System Course dari Dr Vandana Shiva, salah seorang ilmuwan dan aktivis lingkungan dengan reputasi internasional asal India. Dia juga turut serta dalam Bhoomi Festival di New Delhi dan The Soil Yatra di Indore serta Nagpur, India.



Selama perbincangan berlangsung, Nissa menyuguhkan teh herbal Nusantara, salah satu produk olahan dari hasil bertani para santri.



Selain hama, pupuk yang digunakan di Ath Taariq menihilkan campuran zat kimia. Pupuk untuk mengelola kebun harus organik. Dibuat dari kotoran hewan ternak. Karena itu, mereka tidak pernah membeli pupuk.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore