Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Maret 2017 | 02.03 WIB

Mengunjungi Desa Adat Karang Bayan di Lombok Barat yang Terancam Punah

PERLU DIREVITALISASI: Wardana di depan masjid kuno di Desa Adat Karang Bayan, Lombok Barat, Kamis (2/3). - Image

PERLU DIREVITALISASI: Wardana di depan masjid kuno di Desa Adat Karang Bayan, Lombok Barat, Kamis (2/3).



Saat Jawa Pos mengunjungi rumah utama adat Karang Bayan, nenek Merti duduk di teras sambil mengunyah daun sirih. Meski sudah renta dan pendengarannya melemah, dia masih kuat naik tangga rumahnya.



Rumah turun-temurun yang ditinggali Merti dibagi dalam dua ruangan. Satu ruangan digunakan sebagai tempat tidur, satu ruangan lainnya untuk menaruh perkakas. Sayang, ruangan itu cukup pengap karena tidak banyak sirkulasi udaranya.



Wardana menjelaskan, sehari-hari Merti mengonsumsi daging sapi yang dikeringkan. Daging sapi diiris memanjang menyerupai jari. Kemudian digantung di balik atap ilalang. Setelah kering, daging itu ditumbuk, lalu mulai bisa diolah sesuai selera.



Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut menjelaskan, pernah ada sejarawan Belanda yang meneliti keaslian rumah utama Desa Adat Karang Bayan itu. Setelah dianalisis dari daun pintu yang terbuat dari kayu nangka, usianya diperkirakan sudah 400 tahun. Selain daun pintu, tiang penyangga di bagian teras juga masih asli. Kayu nangka tersebut ditatah dengan ukiran bermotif bunga.



Wardana menambahkan, Desa Adat Karang Bayan dulu sangat ramai. Namun, kepopulerannya meredup setelah terjadi bom Bali I pada 2002. Setelah bom yang dimotori Amrozi cs itu, kunjungan wisatawan asing di Karang Bayan merosot tajam. ”Ini tidak boleh dibiarkan. Harus dikembalikan sebagai destinasi wisata yang nyaman,” tuturnya.



Ratilam, warga lain, mengatakan, saat Karang Bayan masih jaya dulu, dirinya berjualan anyaman ketak. Wujudnya bisa berupa piring tempat buah dan sebagainya. Anyaman ketak terbuat dari jenis rerumputan. Tapi, dengan pengolahan khusus, ia bisa menjadi keras layaknya dari rotan. ”Dulu uang dolar (USD) itu banyak di sini,” katanya.



Saat akhir pekan, perempuan 55 tahun tersebut bisa mengantongi uang USD 100–200 (Rp 1–2 juta) sehari. Namun, begitu terjadi bom Bali I, tidak ada yang membeli dagangannya. Ratilam sempat mengajak Jawa Pos ke rumahnya dan menunjukkan beberapa hasil anyaman ketak. ”Yang tempat buah ini saya jual Rp 50 ribu,” ucapnya.



Ratilam dan Wardana berharap wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Karang Bayan bisa ramai seperti dulu lagi. Mereka juga berharap pemerintah daerah ikut aktif mempromosikan Desa Adat Karang Bayan sehingga tidak mengalami kepunahan seperti beberapa desa adat yang lain.



Desa Adat Karang Bayan juga menjadi semacam cermin kerukunan umat Islam dan Hindu. Di sebelah timur, mayoritas warga beragama Hindu, sedangkan di barat umumnya umat Islam. Dampak kerukunan itu antara lain berwujud pada pernikahan silang 25 warga desa adat tersebut.



Menyikapi Desa Adat Karang Bayan yang nyaris punah, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid merasa prihatin. Di sela rapat koordinasi bidang pendidikan di Senggigi, Lombok Barat, Hilmar menegaskan bahwa desa adat perlu dipertahankan. ”Pelaku seni budaya, pemda, dan pemerintah pusat perlu bekerja sama untuk mempertahankan desa adat di sini,” tuturnya.



Hilmar membeberkan, ada sejumlah komunitas seniman yang meminta dibangunkan rumah seni untuk beraktivitas. Padahal, menurut dia, seniman bisa memanfaatkan rumah-rumah adat untuk memamerkan karya seni. Dengan demikian, rumah adat bisa tetap bertahan dan seniman memiliki ruang ekspresi yang representatif. ”Kalau mereka dibuatkan balai budaya baru, tidak ada jaminan mereka akan aktif terus,” ucapnya. (*/c9/ari)






Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore