
MULUS TAPI SEPI: Jalan kampung yang menghubungkan ke kawasan pesisir bekas pusat generasi mata biru di Kecamatan Jaya, Aceh Barat.
Tapi, kini, bahkan ketika telah di Lamno pun, banyak yang menggeleng tak tahu saat ditanya tentang keberadaan mereka. Apalagi jika yang bertanya tak berbahasa setempat. Atau minimal tanpa logat Aceh.
Udien Syek, salah seorang warga Lamno, mengungkapkan, ketertutupan kepada pendatang tersebut tak lepas dari kejadian masa silam. Si mata biru seolah cuma menjadi objek buruan bagi orang luar. Untuk difoto, atau bahkan diperistri. ’’Gadisnya kan memang cantik-cantik. Berjilbab pula,’’ katanya.
Sampai akhirnya, muncullah nama itu: Pak Puteh. Itu pun bukan nama asli. Hanya merujuk kepada warna kulitnya. Puteh dalam bahasa setempat memang berarti putih. Puteh menjadi panggilan karena dialah satu-satunya yang putih di desa tempatnya tinggal: Ujong Muloh.
Sebelum tsunami, Ujong Muloh desa yang ramai. Di bagian desa di tepi pantai, rumah-rumah penduduk berdiri berimpitan. Khas kampung nelayan. Di tepi pantai itulah si mata biru banyak bermukim.
Tapi, hantaman tsunami membuat lebih dari separo wilayah desa tersebut rata dengan tanah. Otomatis pula banyak warga di sisi dekat pantai yang hilang. Meski tak ada data pasti yang menyebutkan jumlah mereka.
Sejak itu pula, Saleh mengaku tak tahu lagi keberadaan Pak Puteh dan para warga si mata biru lain. ’’Katanya ada yang selamat. Tapi, tidak tahu ke mana sekarang,’’ ujarnya.
***
Penelusuran terhadap Pak Puteh dan si mata biru lain akhirnya mengarah ke Desa Nusa, Kecamatan Jaya. Lokasinya juga di pesisir barat Aceh.
Namun, tak seperti di Ujong Muloh, masih ada kehidupan di sana. Ada rumah penduduk yang dibangun permanen. Meski tidak banyak. Namun, Pak Puteh atau si mata biru lain tetap tak ada di sana. ’’Dengar-dengar ada yang tinggal di desa seberang,’’ jelas Budiman, salah seorang warga, tentang keturunan bule Lamno.
Jangankan nama orang, nama desanya pun tidak jelas. Tapi, merunut dari petunjuk yang diberikan, desa seberang yang dimaksud adalah pedesaan di kawasan yang jauh dari pesisir.
Kawasan yang tidak tersentuh tsunami 17 tahun lalu. Lokasinya lebih tinggi ketimbang pesisir. ’’Biasanya ke sana orang-orang yang mencari si mata biru menuju,’’ kata Budiman.
Tapi, itu pun tetap tanpa jaminan. Banyak yang pulang dengan tangan hampa. Minimnya petunjuk membuat pencarian buntu.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
