Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 31 Agustus 2017 | 16.09 WIB

Menelusuri Generasi Mata Biru di Bumi Serambi Makkah

MULUS TAPI SEPI: Jalan kampung yang menghubungkan ke kawasan pesisir bekas pusat generasi mata biru di Kecamatan Jaya, Aceh Barat. - Image

MULUS TAPI SEPI: Jalan kampung yang menghubungkan ke kawasan pesisir bekas pusat generasi mata biru di Kecamatan Jaya, Aceh Barat.


Tapi, kini, bahkan ketika telah di Lamno pun, banyak yang menggeleng tak tahu saat ditanya tentang keberadaan mereka. Apalagi jika yang bertanya tak berbahasa setempat. Atau minimal tanpa logat Aceh.


Udien Syek, salah seorang warga Lamno, mengungkapkan, ketertutupan kepada pendatang tersebut tak lepas dari kejadian masa silam. Si mata biru seolah cuma menjadi objek buruan bagi orang luar. Untuk difoto, atau bahkan diperistri. ’’Gadisnya kan memang cantik-cantik. Berjilbab pula,’’ katanya.


Sampai akhirnya, muncullah nama itu: Pak Puteh. Itu pun bukan nama asli. Hanya merujuk kepada warna kulitnya. Puteh dalam bahasa setempat memang berarti putih. Puteh menjadi panggilan karena dialah satu-satunya yang putih di desa tempatnya tinggal: Ujong Muloh.


Sebelum tsunami, Ujong Muloh desa yang ramai. Di bagian desa di tepi pantai, rumah-rumah penduduk berdiri berimpitan. Khas kampung nelayan. Di tepi pantai itulah si mata biru banyak bermukim.


Tapi, hantaman tsunami membuat lebih dari separo wilayah desa tersebut rata dengan tanah. Otomatis pula banyak warga di sisi dekat pantai yang hilang. Meski tak ada data pasti yang menyebutkan jumlah mereka.


Sejak itu pula, Saleh mengaku tak tahu lagi keberadaan Pak Puteh dan para warga si mata biru lain. ’’Katanya ada yang selamat. Tapi, tidak tahu ke mana sekarang,’’ ujarnya.
***


Penelusuran terhadap Pak Puteh dan si mata biru lain akhirnya mengarah ke Desa Nusa, Kecamatan Jaya. Lokasinya juga di pesisir barat Aceh.


Namun, tak seperti di Ujong Muloh, masih ada kehidupan di sana. Ada rumah penduduk yang dibangun permanen. Meski tidak banyak. Namun, Pak Puteh atau si mata biru lain tetap tak ada di sana. ’’Dengar-dengar ada yang tinggal di desa seberang,’’ jelas Budiman, salah seorang warga, tentang keturunan bule Lamno.


Jangankan nama orang, nama desanya pun tidak jelas. Tapi, merunut dari petunjuk yang diberikan, desa seberang yang dimaksud adalah pedesaan di kawasan yang jauh dari pesisir.


Kawasan yang tidak tersentuh tsunami 17 tahun lalu. Lokasinya lebih tinggi ketimbang pesisir. ’’Biasanya ke sana orang-orang yang mencari si mata biru menuju,’’ kata Budiman.


Tapi, itu pun tetap tanpa jaminan. Banyak yang pulang dengan tangan hampa. Minimnya petunjuk membuat pencarian buntu.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore