Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Desember 2016 | 00.14 WIB

Cerita Tentang Taman Bahagia 45, Makam Syuhada yang Terlupakan

TERLUPAKAN: Lokasi bekas Taman Bahagia yang berada di belakang Masjid Ampel, Surabaya. - Image

TERLUPAKAN: Lokasi bekas Taman Bahagia yang berada di belakang Masjid Ampel, Surabaya.



Saat pertempuran 10 November 1945 meletus, pesawat-pesawat pengebom sekutu beterbangan dari arah utara. Kawasan Ampel termasuk garis terdepan. Satu bom jatuh di Ampel Menara. Menewaskan ratusan warga. Baik pejuang maupun non pejuang. Mereka dimakamkan bersama di satu tempat. Taman Bahagia 45 namanya.





TAUFIQURRAHMAN, Surabaya





LUBANG bekas bom yang jatuh pernah ditanami pohon beringin. Tumbuh besar di tengah-tengah permukiman padat di Gang Ampel Menara. Beberapa ratus meter dari Masjid Agung Ampel. Tujuannya sebagai pengingat. Tetenger. Sekarang pohon beringin itu sudah hilang.



Pohon beringin tersebut ditanam oleh Raden Wijayakrana, seorang bangsawan asal Madura. Dia dibantu Haji Abdul Aziz, yang juga ningrat dari Pulau Garam tersebut. Di pohon itulah, Muhammad Khotib, cucu Abdul Aziz, menghabiskan masa kecil. Di cabang-cabang pohon tersebut, Khotib bergelantungan hingga membuat rumah pohon.



Daripada bolong melompong, Khotib, kini ketua RW 4 Ampel Menara, berinisiatif menanam pohon mangga di bekas pohon beringin tersebut. Pohonnya belum besar. Mungkin dua meteran tingginya. Di sekeliling pohon itu dipasang pagar besi dengan cat merah-putih.



’’Saya akan bikin relief juga di sini, mengingatkan peristiwa zaman lampau,’’ kata Khotib sambil menunjukkan pohon tersebut kepada Jawa Pos, Jumat (9/12).



Selain lubang, bom sekutu meninggalkan banyak sekali korban di kalangan warga Ampel. Mereka kemudian dievakuasi dan dimakamkan bersama beberapa meter dari kompleks makam Sunan Ampel. Beberapa meter di belakang Masjid Agung Ampel.



Tentu saja, hari ini makam tersebut sudah tidak ada. Bekas Taman Bahagia sudah menjadi permukaan paving dekat tempat wudu. Pada 1985 jenazah para pahlawan tersebut dipindah ke Taman Makam Pahlawan (TMP) Mayjen Sungkono. Pemindahan itu dilakukan lantaran ada penataan dan perluasan kawasan Wisata Religi Ampel. Rencana perluasan Masjid Ampel memang muncul pada dekade 1980-an.



Khotib masih menyimpan beberapa foto lawas yang mengabadikan momen pemindahan tersebut. Serah terimanya dilakukan Camat Semampir saat itu Soekaryanto kepada kepala Dinas Sosial Kota Surabaya. ’’Sebelum dipindahkan, jenazah disemayamkan di Kodim 0830 Surabaya Utara (Jalan Gresik, Red),’’ tutur Khotib.



Di dalam foto tersebut, tergambar warga dan beberapa personel TNI sedang duduk mengelilingi peti berisi tengkorak dan tulang belulang manusia penghuni Taman Bahagia Surabaya. Khotib menuturkan, jenazah dimasukkan ke empat peti. Nama Taman Bahagia tidak terlalu dikenal. Tapi, Khotib cukup yakin. ’’Dulu ada tulisan melengkung di pintu masuk makam, Taman Bahagia 45,’’ ujarnya.



Taman itu sama sekali belum masuk dalam peta sejarah maupun wisata Kota Surabaya. Untunglah, Khotib dan beberapa kawannya primpen menyimpan berbagai catatan tentang TMP tersebut. Khotib bahkan yakin di TMP Mayjen Sungkono tidak akan bisa dibedakan lagi mana yang berasal dari Taman Bahagia. ’’Serabutan, sejak dimakamkan di Ampel saja, banyak yang tidak dikenal,’’ katanya.



Khotib kemudian mengajak Jawa Pos untuk menemui saksi hidup saat pemindahan para jenazah penghuni Taman Bahagia 45. Dia adalah Muhammad Nuh, lurah Ampel pada 1994. Rumahnya berada di ujung Gang Ampel Gading.



Di ruang tamunya, Nuh dan Khotib bergantian bercerita. Yang tidak banyak diketahui adalah kuburan warga Ampel korban mortir yang masih tersebar di sepanjang Jalan Petukangan, Surabaya. Namun, hari ini wilayah tersebut sudah berubah menjadi perumahan warga. ’’Makanya, salah satu gang bernama Petukangan Makam,’’ katanya. Bagian utara kompleks pemakaman Sunan Ampel memang dahulu adalah areal pemakaman yang luas. Termasuk di dalamnya bong, makam Tionghoa muslim.



Namun, beberapa orang yang diakui ketokohannya punya kontribusi besar terhadap revolusi serta kalangan pejuang diberi tempat khusus. Yakni, di Taman Bahagia 45. Meski demikian, banyak juga penghuni Taman Bahagia yang tidak teridentifikasi. ’’Bisa dikatakan, Taman Bahagia adalah makam syuhada dari warga Ampel,’’ katanya.



Waktu itu, Nuh sedang menjabat staf Kecamatan Semampir. Dia menyaksikan dari dekat jenazah para pahlawan diangkat dan dipindahkan. Prosesnya berlangsung lancar meski beberapa warga Ampel berkeberatan dengan pemindahan makam tersebut. ’’Mau gimana lagi, tanahnya punya Masjid Ampel,’’ ujar Nuh.

Editor: Fim Jepe
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore