Musdhalifah Machmud (kanan) selaku Srikandi sawit asal Makassar atau Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). (Nanda Prayoga/JawaPos.com)
JawaPos.com - Minyak sawit seringkali dituduh sebagai alasan dibalik terjadinya deforestasi di dunia. Hal ini disampaikan langsung oleh Musdhalifah Machmud selaku Srikandi sawit asal Makassar atau Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).
Bahkan, dia mengaku pernah mendengar hal ini pada konferensi dalam rangka REDD+ (Reducing Emission from Deforestation and forest Degradation) di Brussels. Saat itu terdengar ungkapan yang mengklaim bahwa 700 juta hektare deforestasi di dunia didorong oleh kelapa sawit.
“Itu narasi yang saya pernah dengar, dan itu saya dengar sendiri pada saat konferensi yang ada di Brussels. Waktu itu kami diundang untuk menjadi pembicara. Di situ saya dengar, kita komplain dong, 700 juta hektare deforestasi terjadi di di dunia. Kita (lahan sawit) cuma punya 30 juta hektare maksimum, kelapa sawit di dunia,” kata Musdhalifah pada sela-sela IPOC 2025 di Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11).
Dia pun mempertanyakan di mana sisa 670 hektare lahan sawit tersebut berada. Musdhalifah menegaskan bahwa narasi seperti itu harus diluruskan. Bahkan, dunia perlu diperlihatkan bahwa negara-negara produsen kelapa sawit justru memiliki kawasan hutan yang luas.
Indonesia, misalnya, masih memiliki 63 persen kawasan hutan, Malaysia 62 persen, Thailand 30 persen, Kolombia 52 persen, Nigeria 23 persen, Papua Nugini 89 persen, Kongo 69 persen, bahkan Ghana masih memiliki 68 persen kawasan hutan.
“Komoditas lain yang mereka anggap lebih ramah lingkungan, tapi mereka tidak punya hutan. Apakah itu yang kita anggap komoditas yang ramah lingkungan?,” tukasnya.
Dia menekankan bahwa sejatinya negara-negara produsen minyak sawit tetap dapat mempertahankan kawasan hutan yang ada. Sebab, masyarakat di sekitarnya memiliki penghidupan yang cukup dan merasa terpenuhi oleh komoditas yang mereka tanam, baik sawit, kakao, maupun kopi.
“Dengan punya ekonomi, mereka sudah puas, mereka bisa akses pendidikan, akses sosial, akses infrastruktur dan lain-lain, karena ada ekonomi yang mereka miliki. Mereka punya kelapa sawit, mereka bisa jual infrastruktur terbangun, mereka bisa akses ke masjid, ke gereja, ke pendidikan, karena mereka punya ekonomi. Jadi ini, narasi ini perlu kita bangun,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti produk-produk kelapa sawit yang sering diklaim sebagai produk tak ramah bahkan merusak lingkungan. Padahal, menurutnya, lingkungan tak akan rusak akibat sawit, hanya ekosistem saja yang berubah.
Sementara itu, Musdhalifah juga mengungkapkan tak semua kawasan kelapa sawit itu berasal dari hutan, hanya 5 persen. Kebanyakan berasal dari lahan-lahan kritis hingga konversi dari komunitas yang kurang produktif.
“Yang banyak itu kan melakukan reformasi, dari misalnya sudah memanfaatkan hutannya, dari HPH (Hak Pengusahaan Hutan), kemudian dari lahan-lahan yang kritis, yang marginal, yang lain-lain. Itu mostly dari situ. Atau konversi dari komunitas yang kurang produktif menjadi komunitas yang lebih produktif. Itu yang kita bangun. Dan 5 persen memang dari primary forest,” tukasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Soal Penolakan Pembangunan Gereja di Citraland, Wali Kota Eri: Tidak Sesuai Site Plan
Prediksi Skor Singapura vs Thailand: Ilhan Fandi Jadi Ancaman, Tuan Rumah Bisa Bikin Kejutan
Prediksi Skor Sabah FC vs Persib Bandung: Pangeran Biru Bidik Puncak Dewata Challenge Series 2026
Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kasus Penjahit Rasis Bali Kembali Diperbincangkan, Diduga Ada Intimidasi Saat Audiensi
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Pembangunan Gereja di Citraland Surabaya Ditolak Warga, Ternyata karena salah soal Perizinannya
Jadwal Siaran Langsung Sabah FC vs Persib Bandung di Dewata Challenge Series 2026: Live di Indosiar
5 Weton Aras Kembang yang Bisa Memikat Lawan Jenis karena Kharismatik danMempesona Menurut Primbon Jawa
