Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 28 Agustus 2022 | 03.00 WIB

Keluh Kesah Pedagang dan Pelanggan Warteg Saat Harga Telur Melambung

Ilustrasi seorang pelanggan tengah makan  di Warteg. (Deri) - Image

Ilustrasi seorang pelanggan tengah makan di Warteg. (Deri)

JawaPos.com - Lonjakan harga telur yng kini telah tembus Rp 31.000 per kilogram mulai berimbas ke pedagang ritel. Salah satu yang merasakan adalah pedagang warung tegal (warteg) dan pelanggannya di Jakarta Selatan.

Sri, pemilik Warteg di Jalan Tegal Parang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan mengungkapkan kenaikan harga rtelur dalam beberapa pekan terkahir menyulitkan dirinya dalam berjualan. Meskipun harga telur naik, dirinya memilih tidak menaikkan harga karena nantinya akan berpengaruh terhadap omzet penjualan.

"Kalau kita jual mahal, nanti orang nggak dateng lagi. Serba salah. Pernah naikin jadi 5 ribu tapi yang makan jadi kurang," ujar Ira ditemui JawaPos.com di warungnya, Sabtu (27/8/2022).

Ia juga bercerita, makin serba salah ketika kenaikan telur ayam bersamaan dengan bahan pokok lainnya, seperti bawang merah dan cabai.

Meski begitu, Sri tetap teguh tidak menaikkan harga untuk seporsi nasi lengkap dengan telur dan sayur. Salah satu alasannya agar tetap bisa membayar kontrak toko untuk setahun ke depan.

Untuk informasi, di tengah kenaikan telur Sri tetap membanderol harga kisaran Rp 10.000 untuk nasi porsi setengah lengkap dengan sayur dan telur. Sementara porsi penuhnya dipatok sebesar Rp11.000.

Ditanya soal kemungkinan menaikkan harga ke Rp 15.000 per porsi, Sri langsung menolak. Menurutnya, tanpa dinaikkan saja warungnya tidak seramai sebelum pandemi Covid-19.

"Enggaklah kalau 15 ribu, lari semua nanti. Kalau dinaikin, pelanggan malah lari, bisa-bisa nanti kita nggak bisa bayar kontrakan," terangnya

Soal kenaikan telur, ia lebih memilih cara membeli sekaligus dalam jumlah banyak. Sri yang biasa berbelanja online, sering mendapat tawaran harga telur lebih murah dari pasaran, yakni hanya Rp 27.000 per kilogramnya.

Namun, lanjutnya, harga tersebut bisa diperoleh jika dirinya membeli dalam jumlah banyak minimal 10 kilogram. Sementara, tiap hari warungnya selalu menghabiskan 2 kilogram untuk dimasak aneka macam, mulai dadar, ceplok, dan telur bulat.

Ditemui di tempat lain, seorang penikmat kudapan nasi telur di warteg daerah Kuningan, Jaksel, mengaku mengalami kenaikan harga.

Zaenab namanya, ditemui JawaPos.com saat berjualan minuman, mengaku mengalami kenaikan harga makanan imbas telur ayam yang melonjak.

Biasanya, ia hanya perlu membayar Rp 10.000 untuk nasi telur. Tapi, dua pekan terakhir harga tersebut naik Rp 3000 menjadi Rp 13.000.

"Biasanya nasi telur Rp 10 ribu, sekarang jadi Rp 13 ribu. Katanya telur naik, makin mahal," ujarnya.

Kendati demikian, Zaenab tidak punya pilihan lain karena dirinya terbiasa membeli makanan siap saji. Kadang ia hanya bersiasat dengan membawa nasi dari rumah dan hanya membeli telur matangnya saja seharga Rp5 ribu.

 

 

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore