
Diskusi panel terkait literasi keuangan di Indonesia. (Istimewa)
JawaPos.com - Akses masyarakat Indonesia terhadap layanan keuangan terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik capaian inklusi keuangan yang telah mendekati 90 persen, masih terdapat persoalan besar yang dinilai dapat menghambat dampak ekonomi yang lebih luas, yakni rendahnya tingkat literasi keuangan masyarakat.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tingkat inklusi keuangan nasional telah mencapai sekitar 90 persen. Meski demikian, masih terdapat kesenjangan sekitar 25–30 persen antara inklusi dan literasi keuangan. Di sektor teknologi finansial (fintech), tingkat literasi bahkan baru mencapai 13 persen, sementara inklusinya berada di angka 36 persen.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam diskusi panel bertajuk Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems dalam rangkaian The 2026 Asia Grassroots Forum. Para pembicara menilai bahwa perluasan akses layanan keuangan saja tidak cukup untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif tanpa dibarengi edukasi, pendampingan, akses pasar, serta infrastruktur digital yang memadai.
Mantan Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014–2019 sekaligus Komisaris Utama Amartha Rudiantara menegaskan, keberhasilan inklusi keuangan harus diukur dari kemampuan masyarakat mengelola keuangan secara sehat, bukan sekadar memiliki akses terhadap layanan keuangan.
“Inklusi keuangan saja tidak cukup. Masyarakat perlu memahami cara mengelola keuangan secara bijak, bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan,” ujar Rudiantara di Jakarta.
Menurut Rudiantara, pendekatan literasi keuangan perlu disesuaikan dengan karakteristik masyarakat yang dilayani. Khusus di wilayah pedesaan, pendampingan langsung masih menjadi faktor penting dalam membangun perilaku keuangan yang sehat dan berkelanjutan.
Dia menjelaskan, sebagian besar pelaku usaha mikro di daerah masih membutuhkan edukasi dan bimbingan agar mampu memanfaatkan layanan keuangan untuk mengembangkan usaha serta meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Dalam forum yang sama, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menekankan pentingnya menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan ekonomi, terutama di tingkat komunitas dan keluarga.
Menurut dia, perempuan dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan menghadapi dampak perubahan iklim, krisis pangan, hingga tekanan ekonomi rumah tangga. Karena itu, strategi pembangunan ekonomi harus memberikan ruang lebih besar bagi pemberdayaan perempuan melalui akses lahan, pendidikan, pelatihan, hingga pembiayaan usaha.

Prediksi Skor Arema FC vs DPMM FC di Piala Presiden 2026! Momentum Singo Edan Lolos ke Semifinal
Suami Endah Fitrianingsih Sakit Hati ke Malik Bawazier Atas Kasus Perzinaan
Prediksi Skor Persib Bandung vs Tampines Rovers di Piala Presiden 2026! Maung Bandung Bisa Sapu Bersih Laga
Laporkan Malik Bawazier, Suami Endah Fitrianingsih Jadikan CCTV Bukti Perzinaan
Pelapor Perzinaan Malik Bawazier Dicecar 28 Pertanyaan di Polda Metro Jaya
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Iran Ubah Strategi Perang, Teheran Kini Sengaja Paksa AS Masuk ke Konflik Lebih Besar
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Staf KPK dari Kepolisian Jadi tersangka Kasus Pemalang, Diduga Peras Bupati Anom
10 Ribu Massa PSHT Gelar Aksi di Surabaya Imbas Konflik DC dan Petugas Valet
