Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 Juni 2026 | 05.02 WIB

Nggak Selalu Tanda-tanda Bangkrut, Penutupan Gerai Ritel Bisa jadi Karena Beberapa Faktor ini

Warga berbelanja kebutuhan di salah satu gerai ritel modern di kawasan Depok, Jawa Barat, Jumat (3/1 - Image

Warga berbelanja kebutuhan di salah satu gerai ritel modern di kawasan Depok, Jawa Barat, Jumat (3/1

JawaPos.com – Fenomena penutupan sejumlah gerai ritel belakangan ini kerap memunculkan anggapan bahwa bisnis ritel sedang terpuruk. Namun demikian, penutupan gerai tidak selalu berarti perusahaan ritel bangkrut atau menghentikan usahanya.

Menurut Founder & Chairman Affiliation Global Retail Association (AGRA) Roy Nicolas Mandey, dalam banyak kasus, perusahaan justru masih melanjutkan dan mengembangkan bisnisnya. Penutupan gerai dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk memindahkan investasi ke lokasi yang dinilai lebih potensial.

"Jadi pertama tentunya penutupan ritel itu bukan hanya karena korporasinya bangkrut atau tutup ya, tapi korporasinya justru masih mau tetap melanjutkan usaha, tetap mau mengembangkan usaha," kata Roy kepada JawaPos.com, Senin (1/6).

Dia menjelaskan, setiap perusahaan ritel memiliki model bisnis dan peta jalan (Roadmap) pengembangan usaha. Karena itu, keberadaan sebuah gerai akan dievaluasi berdasarkan produktivitas wilayah tempat gerai tersebut beroperasi.

Roy mencontohkan, sebuah gerai bisa ditutup ketika kawasan di sekitarnya mengalami perubahan fungsi, seperti beralih menjadi kawasan industri, atau ketika jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut menurun.

"Dan alasan pertama adalah ketika daerah tersebut sudah berubah peruntukannya, atau daerah tersebut sudah berkembang menjadi daerah industri, ataupun juga daerah tersebut kemudian penduduk demografinya berkurang," ujarnya.

Selain faktor lokasi, perubahan perilaku konsumen juga menjadi salah satu penyebab utama. Saat ini masyarakat dinilai semakin selektif dalam berbelanja dan lebih fokus memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Jadi, mereka berbelanja sesuai dengan kebutuhan pokoknya atau sehari-harinya, tidak ada impulse buying lagi, tidak ada pembelian yang tidak direncanakan. Kemudian mereka juga lebih sensitif terhadap harga misalnya, mereka juga sangat sensitif untuk membandingkan harga," jelas Roy.

Mantan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) itu menambahkan, perlambatan konsumsi kelompok menengah turut memberikan tekanan bagi industri ritel modern. Padahal, kelompok menengah selama ini menjadi tulang punggung pertumbuhan transaksi ritel.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore