
Habib Husein Jafar. (Instagram Husein_hadar)
JawaPos.com - Hilirisasi dinilai tidak sekadar menjadi strategi industri dalam pengelolaan sumber daya alam. Kebijakan ini juga dipandang sebagai langkah penting untuk menghadirkan nilai tambah sekaligus memperkuat kemandirian bangsa.
Dengan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga hilir di dalam negeri, manfaat yang dihasilkan tidak hanya berupa pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut juga dinilai mampu memperkuat kedaulatan nasional dalam mengelola kekayaan alam.
Tokoh agama Husein Ja’far Al Hadar menyampaikan bahwa praktik kolonialisasi modern dapat terjadi ketika sebuah negara hanya mengekspor bahan mentah tanpa mengolahnya lebih lanjut. Dalam kondisi tersebut, nilai tambah justru dinikmati oleh negara lain yang mengolah bahan baku tersebut.
“Kalau kita hanya menjual mentahnya saja, kita belum menjadi tuan di negeri sendiri. Ketika kita mulai berpikir hilirisasi, itu langkah menuju kemandirian,” ujar Husein Ja’far.
Menurutnya, kemandirian sebuah bangsa tidak berarti menutup diri dari hubungan internasional. Negara tetap dapat bekerja sama dengan pihak lain, namun tetap memiliki kendali atas pengelolaan kekayaan alamnya sendiri.
“Mandiri bukan berarti sendiri. Kita tidak bisa hidup sendiri, tetapi kita harus menjadi tuan di negeri sendiri. Mengelola dari hulu sampai hilir untuk kebaikan bangsa,” katanya.
Ia menilai bahwa ukuran utama dalam setiap kebijakan ekonomi adalah manfaat yang dihasilkan bagi masyarakat. Prinsip tersebut juga sejalan dengan ajaran Islam yang menekankan pentingnya memberikan manfaat bagi sesama.
“Ukuran kebaikan itu manfaat. Bukan hanya untuk kelompoknya, bukan hanya untuk agamanya, tetapi untuk seluruh manusia, bahkan seluruh alam,” ujar Husein Ja’far.
Dalam ajaran Islam, ia mengingatkan pesan Nabi Muhammad yang menekankan nilai kemanfaatan bagi manusia. Prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam melihat kebijakan ekonomi dan pengelolaan sumber daya.
“Khairunnas anfa’uhum linnas” — sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.
Menurutnya, pengelolaan sumber daya alam harus dijalankan sebagai bentuk syukur atas karunia Tuhan. Proses tersebut juga harus dilakukan dengan cara yang benar serta ditujukan untuk kepentingan bersama.
“Hilirisasi yang benar adalah yang menghadirkan tambahan manfaat. Memberi nilai tambah bagi bangsa, memperkuat kedaulatan, dan tetap menjaga keberlanjutan,” tuturnya.
Dengan pendekatan tersebut, hilirisasi yang dijalankan berbagai pihak diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Program hilirisasi yang dijalankan oleh Grup MIND ID misalnya, dinilai dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sumber daya alam di dalam negeri.
Melalui pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, hilirisasi diharapkan tidak hanya menjadi agenda ekonomi. Kebijakan ini juga dapat menjadi wujud tanggung jawab moral bangsa dalam memanfaatkan kekayaan alam untuk kemaslahatan bersama.
