Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 19 September 2025 | 15.11 WIB

Mengapa Snack Impor Selalu Jadi Incaran? Simak Alasan Seputar Globalisasi, Tren, dan Gaya Hidup di Baliknya

Camilan impor dari berbagai negara. (Shopee.id) - Image

Camilan impor dari berbagai negara. (Shopee.id)

JawaPos.com – Siapa di sini yang selalu tak sabar untuk menemui jadwal belanja bulanan keluarga ke supermarket hanya untuk membeli snack impor favorit? Ketika sampai di sana, ternyata yang ditemui malah rak snack yang kosong padahal rasanya baru beberapa hari lalu restock. Nah, fenomena ini sering kali bikin penasaran, kenapa camilan dari luar negeri bisa jadi rebutan di Indonesia?

Dari jajanan Korea yang dibawa gelombang K-pop, biskuit Jepang dengan rasa unik, hingga keripik dari Amerika, semua punya daya tarik tersendiri. Kehadiran snack impor di minimarket seakan bukan hanya soal makanan, melainkan juga gaya hidup. Ada rasa penasaran, sedikit gengsi, bahkan dorongan ikut tren media sosial yang membuat konsumen rela berburu.

Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia. Global Retail Mag pada 2023 mencatat bahwa konsumen di berbagai negara, termasuk Amerika, semakin gandrung pada produk internasional karena menghadirkan pengalaman baru dan variasi rasa yang lebih kaya. Hal ini juga dilatarbelakangi oleh faktor psikologis.

Banyak orang menganggap camilan luar negeri punya nilai “premium” dibanding produk lokal. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa mencoba atau bahkan membagikan momen menikmati snack langka itu di media sosial.

Hal ini sejalan dengan penelitian Juric dan Worsley pada (1998 yang dipublikasikan dalam sciencedirect.com, di mana mereka menemukan bahwa sikap konsumen terhadap makanan impor dipengaruhi oleh etnosentrisme, pendapatan, pendidikan, hingga minat terhadap budaya asing.

Artinya, preferensi terhadap snack impor bukan sekadar soal rasa, tapi juga cerminan identitas, gaya hidup, dan keterbukaan terhadap dunia luar. Tidak heran jika camilan asal luar negeri bisa berubah menjadi simbol status kecil di kalangan anak muda.

Supermarket ataupun minimarket juga berperan besar dalam memperkuat tren ini. Berbeda dengan toko khusus impor yang aksesnya terbatas, minimarket hadir di setiap sudut kota dan desa, sehingga jadi pintu masuk utama snack impor ke kehidupan sehari-hari. Data dari Ken Research menunjukkan bahwa pasar savory snacks di Indonesia terus bertumbuh, terutama karena gaya hidup urban yang serba cepat.

Minimarket memanfaatkan tren ini dengan menghadirkan variasi produk, baik lokal maupun impor, untuk menarik konsumen yang selalu haus akan hal baru. Dari sinilah muncul fenomena “snack war” di rak minimarket, di mana produk lokal dan internasional bersaing merebut perhatian hanya dalam hitungan detik.

Selain itu, faktor rasa juga memainkan peran besar. Snack impor biasanya menawarkan cita rasa unik yang jarang ditemui di produk lokal, seperti wasabi, matcha, atau keju khas Eropa. Bagi konsumen, mencoba snack impor bukan hanya tentang mengisi perut, tapi juga merasakan “pengalaman global” dalam ukuran kecil.

Global Retail Mag menegaskan bahwa konsumen kini semakin terbuka terhadap makanan internasional karena ingin merasakan keberagaman dan sensasi baru. Meskipun harganya relatif lebih mahal, konsumen tetap rela membeli karena yang mereka dapatkan bukan hanya produk, melainkan juga cerita, pengalaman, dan kebanggaan.

Kalau dipikir-pikir, keberadaan snack impor di minimarket adalah gambaran kecil bagaimana globalisasi bekerja dalam keseharian kita. Ada interaksi antara budaya, tren, dan ekonomi yang membuat sebungkus keripik atau biskuit punya makna lebih dalam dari sekadar camilan.

Penelitian Juric dan Worsley menekankan bahwa preferensi terhadap produk impor mencerminkan kombinasi faktor budaya, status sosial, hingga aspirasi gaya hidup. Jadi, saat kita melihat rak snack impor yang kosong di minimarket, sebenarnya yang kita saksikan adalah pertemuan antara tren global dan perilaku konsumen lokal. Snack itu mungkin hanya bertahan sebentar di rak, tapi jejaknya di media sosial akan bertahan jauh lebih lama. (*)

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore