Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Desember 2024 | 15.46 WIB

Bisnis Bullion Berikan Nilai Tambah sampai Rp 50 Triliun, Pembiayaan Emas BSI Tumbuh 200 Persen

Bisnis bullion bank berpotensi menjadi pendorong gerak industri keuangan. (Istimewa) - Image

Bisnis bullion bank berpotensi menjadi pendorong gerak industri keuangan. (Istimewa)

JawaPos.com–Bisnis bullion bank berpotensi menjadi pendorong gerak industri keuangan. Khususnya perbankan syariah dan ekonomi halal di tengah ketidakpastian ekonomi global. Mengingat, emas merupakan safe haven asset.

Di tengah kondisi yang fluktuatif, emas menjadi pilihan investasi yang menarik bagi masyarakat. Sejalan dengan fungsi instrumen logam muliabitu sebagai lindung nilai (hedging). Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, harga emas meningkat signifikan.

Hingga Jumat (27/12), merujuk logammulia.com, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) tembus Rp 1.528.000 per gram. Naik 35 persen dibanding akhir Desember 2023 senilai Rp 1.130.000 per gram. Nilai tersebut diperkirakan bakal terus melonjak. Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) alias USD terus menurun.

”Hal ini tentu menjadi daya tarik untuk berinvestasi terlebih investasi emas karena sifatnya yang safe haven dan likuid serta memberikan pertumbuhan nilai investasi yang terus naik,” ujar Direktur Sales and Distribution PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Anton Sukarna.

Menurut dia, momentum ini menjadi peluang bisnis yang menggairahkan. Tentu dibarengi dengan skema yang tepat, aman, dan mudah bagi masyarakat. Dengan tetap menjalankan nilai-nilai syariah.

BSI memiliki izin dalam memasarkan cicil emas sesuai syariah. Nasabah juga dimudahkan dengan akses secara online melalui mobile banking BYOND. Selain itu, juga tidak perlu khawatir terhadap penyimpanan emas. ”Karena disimpan dan diasuransikan bank,” terang Anton.

Bahkan jika nasabah membutuhkan dana untuk modal usaha, biaya pendidikan, maupun untuk kebutuhan lainnya, lanjut dia, nasabah dapat menggadaikan emasnya. Hingga November 2024, pembiayaan cicil emas BSI melonjak lebih dari 200 persen year-on-year (YoY) dengan nilai pembiayaan Rp 6,8 triliun.

Chief Economist BSI Banjaran Surya Indrastomo menilai, bank syariah memiliki potensi kuat untuk menjadi aktor utama mendorong gerak industri keuangan syariah dan perekonomian halal nasional. Salah satunya melaluu bullion bank. Peluang tersebut semakin kuat setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan OJK Nomor 17/2024. Dengan menjalankan fungsi bullion bank, BSI mampu berkontribusi pada implementasi strategi hilirisasi pemerintah.

”Ekonomi dan keuangan syariah didorong untuk berperan secara lebih aktif, salah satunya melalui pengembangan industri halal sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif,” papar Surya Indrastomo.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan, potensi bisnis pada produk emas masih luas. Dengan mempertimbangkan Indonesia sebagai salah satu produsen besar emas di dunia. Melalui penerbitan POJK Bullion, perbankan syariah bersama-sama dengan lembaga jasa keuangan (LJK) lainnya dapat menjembatani supply and demand terhadap kebutuhan emas, termasuk monetisasi emas yang masih idle di masyarakat.

Koordinasi antara OJK dan industri perbankan terus dilakukan. Saat ini BSI dalam tahap persiapan infrastruktur untuk selanjutnya mengajukan izin kegiatan usaha bullion sesuai ketentuan.

”Hal tersebut tentunya merupakan bentuk diversifikasi yang dapat memperbesar skala usaha dengan memonetisasi simpanan emas sebagai sumber pendanaan, sehingga dapat meningkatkan pendalaman pasar keuangan dengan semakin meningkatnya variasi produk yang ditawarkan sebagai sarana investasi,” jelas Dian Ediana Rae.

Dian mengatakan, Indonesia belum mampu mengoptimalkan limpahan emas yang dimiliki. Wujud nyata upaya pemerintah dalam mengoptimalkan pemanfaatan limpahan emas dilakukan dengan mengatur kegiatan usaha bullion. Yang mana dapat memaksimalkan added valuedari sumber daya emas yang ada di tanah air.

”Mulai emas hasil tambang maupun stok emas yang dimiliki masyarakat,” imbuh Dian Ediana Rae.

Pengembangan usaha bullion, kata Dian, akan memberikan keuntungan bagi pemerintah, masyarakat dan pelaku usaha, serta LJK. Juga berpotensi meningkatkan konsumsi emas ritel yang akan memacu peningkatan industri emas dan keseluruhan bisnis dalam ekosistem emas yang mewadahi dengan nilai tambah hingga sampai Rp 30-50 triliun.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore