
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melakukan inspeksi mendadak kepada pedagang sembako di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/3/2022). Sidak ini memastikan ketersediaan minyak goreng dan sembako untuk di pasar tradisional menjelang bulan Ramadan. Adapun
JawaPos.com - Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menegaskan bahwa pihaknya tak ingin main-main dalam mengungkap dugaan mafia minyak goreng.
Dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR Sabtu (19/3), Lutfi mengatakan bahwa pihaknya sudah menyerahkan seluruh data dugaan mafia penimbun minyak goreng kepada kepolisian. ”Saya serahkan itu kepada polisi. Biar merekalah yang memutuskan proses hukumnya,” ujarnya.
Berdasar data yang dimiliki Kemendag, ada tiga wilayah yang distribusi minyak gorengnya berlimpah. Yakni, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Jakarta. Tapi, minyak goreng di tiga wilayah itu malah susah didapat. Melihat hal itu, Mendag menilai ada yang tidak beres.
”Di Medan (didistribusikan, Red) 25 juta liter minyak goreng. Jumlah rakyat Medan menurut BPS 2,5 juta orang. Jadi, menurut hitungan, satu orang itu 10 liter. Saya pergi ke pasar dan supermarket Kota Medan, tidak ada minyak goreng,” ujar Mendag.
Menurut Lutfi, hal yang sama terjadi di Jawa Timur yang sudah mendapat distribusi 91 juta liter dan Jakarta yang mencapai 85 juta liter. Mendag mengklaim, pihaknya sudah melakukan sejumlah langkah dalam menangani mafia minyak goreng. Bersama kepolisian, Kemendag melakukan penyisiran dan pendalaman bukti-bukti.
Lutfi sempat menyebut oknum atau calon tersangka terduga mafia minyak goreng akan diumumkan hari ini (21/3). ”Saya belum mau menyebut namanya karena ini asas praduga tidak bersalah, tapi kami sudah temukan sekarang. Pihak Polri lewat Kabareskrim sudah mulai periksa,” ungkapnya.
Sentil Nasionalisme Mendag
Anggota Komisi III DPR Bambang Dwi Hartono menyentil Mendag Muhammad Lutfi dan pelaku usaha terkait kelangkaan migor. Menurut Bambang, rasa nasionalisme Mendag dan pelaku usaha migor patut dipertanyakan. Sentilan tersebut dilontarkan Bambang D.H. di hadapan ratusan warga milenial Surabaya di sela-sela acara sosialisasi Empat Pilar MPR kemarin (20/3).
”Melihat kenyataan di lapangan, pengusaha dan menteri perdagangan tidak berlebihan bila disebut membutakan diri dari kesulitan rakyat. Kebijakannya dari awal tidak memberikan jalan keluar yang solutif. Malah membebani masyarakat,” ujar Bambang.
Mantan wali kota Surabaya dua periode itu mengatakan, saat harga eceran tertinggi (HET) ditetapkan, migor malah hilang di pasaran. Kemudian, kebijakan diubah dengan menyerahkan harga ke mekanisme pasar.
”Mengejutkan sekaligus membuat trenyuh, stok migor langsung memenuhi rak-rak supermarket dan pasar. Tapi, harganya mahal banget. Nah, katanya langka karena terkendala CPO sehingga produksi tersendat? Lha kok setelah harga tidak ditentukan, naik jadi mahal, banyak lagi stoknya?” katanya.
Bambang mempertanyakan nasionalisme para produsen dan distributor migor yang tega menahan pasokan dan tidak segera mendistribusikannya. ”Padahal, masyarakat teriak-teriak tiap hari,” katanya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
