Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Februari 2022 | 18.07 WIB

Mogok Produksi Berakhir, Harga Tahu-Tempe Bakal Naik

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di pabrik tahu kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (16/2/2022). (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com) - Image

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di pabrik tahu kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (16/2/2022). (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Pelaku usaha olahan kedelai memberikan sinyal bahwa aksi mogok produksi oleh industri-industri tahu dan tempe selama tiga hari terakhir sudah selesai.

”Nanti malam (tadi malam, Red) di pasar-pasar seperti Kramat Jati, Kebayoran Lama, dan Pasar Minggu sudah kembali normal,” ujar Ketua Pusat Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Puskopti) DKI Jakarta Sutaryo kemarin.

Sutaryo menyatakan, pengusaha sudah berkoordinasi dengan pemerintah. Dia mengamini bahwa stok memang aman sampai dua bulan ke depan. Karena itu, masyarakat tak perlu khawatir sekalipun akan memasuki momen Ramadan. ”Memang aksi kemarin bukan karena stok, melainkan karena fluktuasi harga kedelai yang bergerak sangat cepat,” tegasnya.

Menurut dia, aksi dilakukan sebagai bentuk komunikasi kepada konsumen bahwa harga kedelai dunia memang sedang naik dan berfluktuasi. ”Karena konsumen mengira pengusaha tahu dan tempe yang mainkan harga. Dikira (kenaikan harga) bikinan pengusaha sendiri. Dengan mogok itu terekspos bahwa kedelai itu memang lagi mahal dan harga tempe dan tahu juga harus mengalami penyesuaian,” papar Sutaryo.

Dia sekaligus mengonfirmasi bahwa tempe dan tahu yang sudah kembali normal di pasaran mengalami penyesuaian harga. ”Harga disesuaikan untuk kelayakan para perajin tahu dan tempe itu, supaya tidak gelisah seperti sebulan terakhir. Yaitu, kelayakannya harus naik 20 persen,” ujarnya.

Gambarannya, tempe yang biasa dibanderol Rp 5.000 per papan akan dijual Rp 6.000 per papan. Sementara, harga tahu dari Rp 600 per potong menjadi Rp 700 per potong.

Kebijakan berbeda diambil produsen tempe dan tahu di Surabaya. Tak ada kenaikan harga. Namun, ukuran tahu dan tempe akan diperkecil.

Pedagang tempe melayani pembeli di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (15/2/2022). Sejumlah pedagang tempe dan tahu di pasar Kebayoran Lama mengancam mogok produksi pada 21-23 Februari 2022 mendatang karena tingginya harga kedelai di pasaran. Harga ka

Pekerja menyelesaikan pembuatan tahu di pabrik tahu kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (16/2/2022). (Foto: Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

Ketua Paguyuban Pengrajin Tempe dan Tahu Surabaya dan Sekitarnya Tarjuki mengungkapkan, para perajin urung menaikkan harga untuk menjaga pelanggan. ”Ada ketakutan mengecewakan pelanggan sehingga teman-teman memutuskan harganya tetap. Tapi, ukurannya akan lebih kecil,” paparnya kemarin.

Dia menyebutkan, jika biasanya tempe seharga Rp 3.000 berukuran 25 sentimeter, mungkin ukurannya akan berkurang menjadi 20 sentimeter. Ukuran itu bergantung kepada setiap perajin. ”Bisa jadi ukurannya tetap besar, tetapi ditambah kulit kedelai sehingga kualitasnya tidak sebagus yang hanya kedelai,” ungkapnya.

Paguyuban berencana mendiskusikan wacana kenaikan harga ini pada Sabtu (26/2). Mereka akan melihat respons konsumen dulu setelah tempe dan tahu kembali ke pasaran. ”Mungkin ada yang minta lebih baik harganya dinaikkan, tapi kualitas tetap. Nanti dibicarakan (paguyuban) lebih lanjut,” tutur Tarjuki.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore