Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 Juni 2021 | 23.57 WIB

Dibayangi Risiko Taper Tantrum, Pengamat: Pasar SBN Masih Menjanjikan

The Federal Reserve (The Fed) - Image

The Federal Reserve (The Fed)

JawaPos.com - Pasar obligasi Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan masih akan menarik di mata investor hingga akhir tahun ini. Sebelumnya banyak spekulasi yang beredar di pasar tentang peluang pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang lebih cepat dari ekspektasi pelaku pasar di Indonesia.

Direktur Investasi dan Kepala Makroekonomi PT Bahana TCW Investment Management (Bahana TCW) Budi Hikmat mengatakan, setidaknya ada beberapa faktor yang akan mendorong daya tarik pasar SBN hingga akhir tahun. "Faktor fundamental Indonesia yang kuat mampu meningkatkan daya tarik pasar SBN di mata investor," ujarnya dalam keterangannya yang diterima oleh JawaPos.com, Kamis (10/6).

Budi menjelaskan, fundamental perekonomian Indonesia didorong oleh tingkat suku bunga yang rendah. Merujuk pada hasil riset Bahana TCW, the Fed masih akan tetap menjaga suku bunganya di level 0-0,25 persen yang akan menjadi ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.

BI sendiri diprediksi akan mempertahankan suku bunga di 3,5 persen hingga akhir tahun ini. "Hal ini akan membawa stabilitas bagi pasar SBN hingga akhir tahun," ucapnya.

Selain itu, lanjutnya, hasil riset Bahana TCW menggambarkan, ke depan nilai tukar Rupiah terhadap dollar AS juga diprediksi akan stabil bahkan menguat. Penguatan Rupiah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk masuk ke pasar keuangan Indonesia.

Proyeksi penguatan Rupiah ini didasarkan pada fundamental perekonomian domestik yang masih terjaga, tecermin dari defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) yang menipis, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mumpuni.

"Pemerintah mampu mengendalikan tingkat inflasi. Tercatat, inflasi tahunan periode Mei sebesar 1,68 persen masih sesuai dengan ekspektasi pasar," jelasnya.

"Bahana TCW pun memperkirakan tingkat inflasi akan berada di kisaran 2-2,5 persen hingga akhir tahun. Angka ini sangat aman karena berada di batas bawah target inflasi BI dan juga masih jauh di bawah bond yield yang berada di level 6,4 persen," imbuhnya.

Lebih jauh, Budi mengatakan, faktor domestik lainnya seperti defisit neraca transaksi berjalan yang hingga saat ini lebih rendah dibanding pada saat menjelang taper tantrum 2013 yang merupakan saat-saat dimana terjadi koreksi cukup dalam di pasar SBN. Selain itu, debt to GDP dalam persentase juga turun serta cadangan devisa sebesar USD 136,4 miliar dipandang masih cukup kuat untuk menjaga stabilitas hingga akhir tahun.

Dengan demikian pihaknya memprediksikan pasar SBN akan mampu bertahan dari gempuran kondisi ekonomi global sehingga capital inflow ke pasar SBN akan masih akan terus terjadi secara gradual hingga akhir tahun. Faktor lain yang tak kalah penting bagi pasar SBN adalah faktor supply.

Bahana TCW melihat pasar SBN akan menguat ke depan karena penerbitan SBN dapat dijaga sesuai rencana. Bahkan pemerintah dapat mengurangi penerbitan SBN jika penerimaan negara positif.

Seperti diketahui, hingga April 2021 yang lalu, realisasi pendapatan negara hingga 30 April 2021 telah terealisasi sebesar 33,5 persen. Capaian ini terbilang positif karena angka ini berada di atas tren penerimaan di tahun-tahun sebelumnya bahkan sebelum pandemi.

Capaian ini salah satunya dikontribusi oleh harga komoditas ekspor seperti batu bara, minyak sawit dan gas yang sangat bagus selama empat bulan terakhir sehingga mendorong pendapatan negara. Meskipun demikian, pihaknya tidak menampik bahwa masih ada risiko terutama yang disebabkan oleh sentimen eksternal.

Kondisi pasar keuangan domestik sangat dipengaruhi oleh faktor sentimen eksternal di pasar keuangan global seperti potensi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat, kenaikan inflasi Amerika Serikat dan penerapan taper tantrum yang lebih cepat dari apa yang diprediksi oleh pasar.

“Namun, Bahana TCW memperkirakan Amerika Serikat akan memulai taper pada awal 2022 meskipun informasi tentang penerapan ini akan bergulir di pasar dimulai tahun ini,” pungkasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore