
Ketua Dewan Tata Krama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jatim Nanik Sutaningtyas. (Jawa Pos Photo)
JawaPos.com - Meski banyak kendala, industri pariwisata Jawa Timur (Jatim) terus berkembang. Tahun ini tren pertumbuhannya akan tetap positif. Apalagi, belakangan sering bermunculan destinasi wisata baru selain alam. Yakni, budaya.
Ketua Dewan Tata Krama Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Jatim Nanik Sutaningtyas mengatakan bahwa wisata alam adalah komoditas utama industri pariwisata Jatim. Artinya, menjual wisata alam jauh lebih mudah. Terutama kepada wisatawan mancanegara (wisman). Karena itulah, pemerintah maupun swasta berlomba-lomba menggenjot pembangunan wisata alam di Jatim.
Belakangan, menurut Nanik, bermunculan juga banyak desa wisata yang mengemas budaya dan tradisi sebagai komoditas. Misalnya, desa wisata Tulung Rejo di Batu, desa wisata Lali Gadget di Sidoarjo, dan Kampung Blekok di Situbondo.
"Alhamdulillah, sekarang hampir semuanya berlomba-lomba membangun pariwisata di daerah masing-masing sehingga industri ini semakin bergairah," ucap owner Akdirasa Travel itu Rabu (1/1).
Tahun ini Nanik yakin industri pariwisata Jatim tumbuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan bahwa wisman yang masuk dari Bandara Juanda pada Oktober lalu naik 2,09 persen daripada bulan sebelumnya.
"Kami rasa tahun depan akan lebih meningkat karena banyak pengembangan desa wisata di Jatim yang menjadi daya tarik tersendiri," tutur Nanik, Rabu (1/1).
Sejauh ini, wisman terbanyak Jatim berasal dari Malaysia, Singapura, dan Tiongkok. Destinasi mereka adalah wisata alam.
Sebagian besar ke kawasan wisata yang memang menjadi program pemerintah pusat, yakni Bromo Tengger Semeru (BTS). Tapi, objek wisata lokal yang pengembangannya bergantung pada APBD atau swadaya masyarakat juga mulai dilirik.
"Intinya, industri ini masih prospektif, tidak akan ada habisnya. Sebab, masyarakat pasti butuh refreshing dalam hidup," tegas Nanik.
Namun, industri pariwisata Jatim punya banyak kendala. Yang paling besar adalah harga tiket pesawat.
Nanik menegaskan bahwa pemerintah harus bisa segera merumuskan kebijakan terkait dengan harga tiket pesawat itu. Mengingat, bandara menjadi gerbang utama arus kedatangan wisman.
"Karena meskipun banyak dikembangkan objek wisata menarik, jika harga tiket tidak terjangkau, animo wisatawan juga akan rendah," tuturnya.
Sebab, Indonesia adalah negara kepulauan. Jika harga tiket pesawat yang bisa membuat wisman berkunjung dari satu daerah ke daerah lain dengan mudah terjangkau, industri pariwisata akan tumbuh maksimal.
"Masalah ini sangat urgen untuk perkembangan di daerah, apalagi yang sulit terjangkau," ungkapnya.
Angka Kunjungan Wisman ke Jatim
(sampai Oktober 2019*)
Malaysia | 5.661 | Naik 5,95 persen
Singapura | 2.362 | Turun 6,82 persen
Tiongkok | 2.284 | Turun 2,31 persen
*dibandingkan bulan sebelumnya
Sumber: BPS Jatim

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
