
Pedagang saat memotong daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (17/5/2020). Sejumlah pedagang menyatakan permintaan daging sapi menjelang Idul Fitri mulai meningkat hingga 50 persen daripada hari biasa sehingga mengakibatkan harga naik dari rata-rata
JawaPos.com – Awal Ramadan ditandai dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok di sejumlah daerah. Misalnya, harga daging sapi naik Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram (kg). Meski demikian, Badan Ketahanan Pangan (BKP) menilai kenaikan itu bukan karena kelangkaan. Namun, dipicu meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa.
Kepala BKP Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi menuturkan, kenaikan harga beberapa bahan pokok mencapai 10 persen.
Meski begitu, Agung mengatakan bahwa stok bahan pangan saat ini masih aman. Termasuk sampai Idul Fitri pada pertengahan Mei nanti. Menurut dia, gejolak harga terjadi dalam rentang H-3 Ramadan. Kemudian, berlangsung sampai H+3 atau hari ketiga bulan puasa. Setelah itu, harga akan kembali normal.
Dia memprediksi, kenaikan harga kebutuhan pangan kembali terjadi menjelang Idul Fitri. Tepatnya saat H-3 Lebaran. Kemudian, harga kembali stabil pada H+3 Lebaran.
Kebijakan larangan mudik diperkirakan juga berpengaruh pada harga kebutuhan pangan saat Lebaran nanti. Sebab, larangan mudik itu membuat populasi orang di perkotaan saat Lebaran relatif tetap tinggi.
Agung mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya kenaikan harga pangan saat ini. Sebab, perlahan-lahan harga mulai stabil. Dia mencontohkan harga cabai rawit yang kini turun. Kementan juga memonitor peningkatan produksi sapi lokal yang mencapai 188 ribu ekor.
Agung menjelaskan, Kementan terus melakukan pembinaan terhadap UMKM untuk menyediakan produk pascapanen. Dengan demikian, masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan olahan dan tidak banyak makanan sisa yang terbuang percuma.
Baca juga: Harga Merangkak Naik, Daging Ayam Rp 45 Ribu, Sapi Rp 140 Ribu per Kg
’’Sekarang kan posisinya konsumsi produk olahan itu 30 persen. Sisanya 70 persen adalah konsumsi produk fresh,’’ jelasnya. Kondisi itu berbalik jika dibandingkan dengan pola konsumsi di negara maju seperti Eropa dan Amerika. Di negara-negara tersebut, penduduknya lebih banyak mengonsumsi produk olahan ketimbang produk segar atau fresh.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://youtu.be/-dUhCWipqig

Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
13 Rekomendasi Tempat Liburan di Malang dengan Pilihan Wisata Alam, Hiburan, dan Spot Santai yang Membuat Pikiran Lebih Fresh
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Rekomendasi 13 Wisata Terbaik di Bandung untuk Liburan Santai, Healing, dan Quality Time Bersama Orang Tersayang
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
