Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 April 2021 | 20.43 WIB

Awal Ramadan, Harga Bahan Pokok Naik 10 Persen

Pedagang saat memotong daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (17/5/2020). Sejumlah pedagang menyatakan permintaan daging sapi menjelang Idul Fitri mulai meningkat hingga 50 persen daripada hari biasa sehingga mengakibatkan harga naik dari rata-rata - Image

Pedagang saat memotong daging sapi di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (17/5/2020). Sejumlah pedagang menyatakan permintaan daging sapi menjelang Idul Fitri mulai meningkat hingga 50 persen daripada hari biasa sehingga mengakibatkan harga naik dari rata-rata

JawaPos.com – Awal Ramadan ditandai dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok di sejumlah daerah. Misalnya, harga daging sapi naik Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per kilogram (kg). Meski demikian, Badan Ketahanan Pangan (BKP) menilai kenaikan itu bukan karena kelangkaan. Namun, dipicu meningkatnya permintaan menjelang bulan puasa.

Kepala BKP Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi menuturkan, kenaikan harga beberapa bahan pokok mencapai 10 persen.

Meski begitu, Agung mengatakan bahwa stok bahan pangan saat ini masih aman. Termasuk sampai Idul Fitri pada pertengahan Mei nanti. Menurut dia, gejolak harga terjadi dalam rentang H-3 Ramadan. Kemudian, berlangsung sampai H+3 atau hari ketiga bulan puasa. Setelah itu, harga akan kembali normal.

Dia memprediksi, kenaikan harga kebutuhan pangan kembali terjadi menjelang Idul Fitri. Tepatnya saat H-3 Lebaran. Kemudian, harga kembali stabil pada H+3 Lebaran.

Kebijakan larangan mudik diperkirakan juga berpengaruh pada harga kebutuhan pangan saat Lebaran nanti. Sebab, larangan mudik itu membuat populasi orang di perkotaan saat Lebaran relatif tetap tinggi.

Agung mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir dengan adanya kenaikan harga pangan saat ini. Sebab, perlahan-lahan harga mulai stabil. Dia mencontohkan harga cabai rawit yang kini turun. Kementan juga memonitor peningkatan produksi sapi lokal yang mencapai 188 ribu ekor.

Agung menjelaskan, Kementan terus melakukan pembinaan terhadap UMKM untuk menyediakan produk pascapanen. Dengan demikian, masyarakat terbiasa mengonsumsi makanan olahan dan tidak banyak makanan sisa yang terbuang percuma.

Baca juga: Harga Merangkak Naik, Daging Ayam Rp 45 Ribu, Sapi Rp 140 Ribu per Kg

’’Sekarang kan posisinya konsumsi produk olahan itu 30 persen. Sisanya 70 persen adalah konsumsi produk fresh,’’ jelasnya. Kondisi itu berbalik jika dibandingkan dengan pola konsumsi di negara maju seperti Eropa dan Amerika. Di negara-negara tersebut, penduduknya lebih banyak mengonsumsi produk olahan ketimbang produk segar atau fresh.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

https://youtu.be/-dUhCWipqig

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore