Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan dengan tiga pemimpin perusahaan Eropa yang salah satunya adalah CEO Badische Anilin- und Soda-Fabrik (BASF) Dr. Martin Brudermuller. (Istimewa)
JawaPos.com - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengumumkan bahwa RI telah berhasil mendapatkan kepastian terkait investasi industri baterai listrik di tanah air. Tepatnya, melakukan investasi di Kawasan Industri Teluk Weda, Maluku Utara.
Bahlil menyebut, kepastian ini diperoleh setelah Presiden Jokowi melakukan pertemuan dengan tiga pemimpin perusahaan Eropa yang salah satunya adalah CEO Badische Anilin- und Soda-Fabrik (BASF) Dr. Martin Brudermuller, pada hari Minggu sore waktu setempat (16/4). Tepatnya, di sela-sela kunjungan kenegaraan ke Hannover, Jerman, pekan ini.
"BASF akan bekerja sama dengan perusahaan Eramet asal Prancis dalam mengembangkan proyek senilai USD 2,6 miliar (setara Rp38,34 triliun, kurs Rp14.748)," kata Bahlil melalui keterangan tertulis, Senin (17/4).
Bahlil yang turut mendampingi kunjungan Jokowi mengungkapkan, kepastian investasi BASF dan Eramet sebagaimana disampaikan secara langsung kepada Jokowi untuk melakukan investasi di Maluku Utara dalam rangka pembangunan ekosistem baterai mobil.
Nantinya, kata dia, kerja sama antara BASF dan Eramet ini akan membangun Proyek Sonic Bay di Kawasan Industri Teluk Weda, Maluku Utara, yang merupakan pabrik pemurnian nikel/cobalt HPAL atau High Pressure Acid Leach yang menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitates (MHP).
Sementara itu, dalam pembangunan proyek BASF dan Eramet berkomitmen akan memperhatikan lingkungan, serta memakai energi hijau. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo bahwa Indonesia sangat terbuka untuk investasi dan kerja sama, di antaranya dalam hilirisasi industri dan ekonomi hijau.
“Ini adalah sebuah momentum yang tepat untuk menyampaikan kepada dunia bahwa Indonesia terbuka dalam hal menarik investasi tidak hanya di benua Asia tapi juga dari benua Eropa. Ini sebagai bentuk investasi yang inklusif dan sekaligus menganulir cara berpikir orang yang mengatakan seolah-olah pengelolaan tambang di Indonesia tidak memperhatikan kaidah-kaidah yang ada pada standar internasional. Insya Allah ke depan investasi ini akan semakin baik,” tandas Bahlil.
Sebelumnya, Menteri Bahlil telah melakukan pertemuan dengan pihak BASF untuk mendiskusikan rencana investasi ini saat berada di World Economic Forum (WEF) Davos 2023 pada Januari lalu.
BASF telah menyampaikan minatnya memproduksi MHP menjadi prekursor baterai listrik, dengan kapasitas produksi sebesar 67 ribu ton nikel/tahun dan 7,5 ribu ton kobalt/tahun.
BASF merupakan perusahaan multinasional asal Jerman dan produsen kimia terbesar di dunia yang saat ini bekerjasama dengan perusahaan pertambangan asal Prancis, Eramet, di bidang industri smelter pemurnian hidrometalurgi nikel dan kobalt yang menghasilkan produk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Selama periode 2018-2022, Jerman menempati posisi ke-16 dalam peringkat negara asing dengan nilai investasi tertinggi dengan total investasi sebesar USD991 juta. Berdasarkan bidang usaha, investasi Jerman paling tinggi ada pada sektor industri mesin, elektronik, instrumen kedokteran, peralatan listrik, presisi, optik dan jam senilai USD 308,4 juta dan investasi terbesar berada di Jawa senilai USD 499,8 juta.