
Direktur Utama SIG, Donny Arsal (berkacamata) melepas ikan bilih di Danau Singkarak, Sumatra Barat.
JawaPos.com - Ikan bilih di Danau Singkarak, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, sempat dinyatakan nyaris punah akibat terlalu dieksploitasi. Hal itu menjadi keprihatinan sekaligus memantik rasa kepedulian dari sejumlah pihak untuk melakukan langkah konservasi.
Kepedulian itu salah satunya datang PT Semen Padang, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG). Ia pun melakukan konservasi ikan bilih bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Bung Hatta (UBH). Konservasi dilakukan di area Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) milik PT Semen Padang sejak Juli 2018 silam.
"Konservasi ikan bilih merupakan bentuk kepedulian perusahaan terhadap lingkungan, khususnya ikan bilih Danau Singkarak jenis Mystacoleucus Padangensis dan satu-satunya di dunia yang terancam punah akibat ekploitasi,” kata Direktur Utama SIG, Donny Arsal, dalam keterangannya, Selasa (23/8).
Usaha konservasi ikan bilih ini membuahkan hasil yang positif. Akhirnya, sebanyak 7.000 ikan bilih hasil budidaya di area konservasi Kehati PT Semen Padang secara resmi dilepas habitat aslinya yaitu Danau Singkarak.
Pelepasan ikan bilih dilakukan oleh Wakil Gubernur Sumatra Barat Audy Joinaldy, Direktur Utama SIG Donny Arsal, Komisaris PT Semen Padang Werry Darta Taifur dan Khairul Jasmi, Direktur Utama PT Semen Padang Asri Mukhtar, dan Rektor Universitas Bung Hatta Tafdil Husni.
Pelepasan 7000 ekor ikan bilih ke Danau Singkarak dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, sebanyak 4.000 ekor dilepaskan dilakukan pada Maret 2022. Sementara pada tahapan kedua sebanyak 3.000 ekor ikan bilih resmi dilepas untuk menjadi penghuni danau, beberapa waktu lalu.
Donny Arsal juga menyampaikan, konservasi ikan bilih yang terbukti berhasil penting ditingkatkan dalam skala lebih besar lagi di masa yang akan datang. Selain untuk menjaga kelestarian ikan bilih, juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya pembudidayaan ikan bilih di luar habitat.
Wakil Gubernur Sumbar, Audy Joinaldy, mengatakan bahwa tahun 2020, status ikan bilih dinyatakan hampir punah. Dia pun mendorong upaya konservasi supaya ancaman kepunahan dapat diantisipasi. “Ikan bilih seharusnya lebih mahal dibandingkan ikan salmon di restoran Jepang," kata Audy Joinaldy.
Sementata itu, Rektor UBH Tafdil Husni mengatakan, pihaknya bersemangat atas kerja sama melakukam konservasi ikan bilih sebagai bentuk kontribusi kampus terhadap lingkungan dan masyarakat. Apalagi UBH memiliki Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) yang didukung oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Menurutnya, ribuan ikan bilih hasil konservasi yang ditebar ke Danau Singkarak akan memiliki dampak positif untuk ketersediaan ikan sekaligus akan memiliki dampak ekonomi yang baik bagi masyarakat sekitar. Dalam perthitungannya, dari jumlah ikan yang dilepas, sangat potensial beranak pinak yang akan menambah kuantitas ikan bilih berkali lipat di Danau Singkarak.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
