SESUAIKAN KEBUTUHAN: Deretan rumah di kompleks perumahan di kawasan Surabaya Timur, Selasa(27/6). Pengembang menyasar keluarga muda sebagai end user.
Saat tiba harus memilih sewa atau beli hunian, pertimbangan faktor keuangan menjadi yang utama. Properti bisa menjadi aset dan investasi. Kemampuan membeli, khususnya skema kredit, harus diperhatikan.
---
CERTIFIED financial planner (CFP) Rizqi Syam menjelaskan, dari jenis income saja, setiap orang punya pola yang berbeda. Ada yang memiliki pendapatan stabil seperti karyawan. Ada juga yang fluktuatif seperti pengusaha.
”Rumusannya, kita akan lihat dari tiga hal, yaitu harga properti, gaji, dan kemampuan kredit ideal. Sederhananya, jika cicilan masih di bawah angka 25 persen dari income bulanan tanpa cicilan lainnya, opsi membeli bisa dibilang aman,” ujar Rizqi di Jakarta Jumat (30/6).
Rizqi membeberkan, rasio utang yang ideal adalah 35 persen dari pendapatan. Pembagiannya, 20–25 persen untuk kredit produktif. Misalnya, tempat tinggal. Sisanya adalah konsumtif seperti untuk pembelian barang-barang lain.
Menurut dia, seseorang harus memiliki proyeksi yang matang tentang pekerjaan yang dijalani atau bisnis yang sedang ditekuni. Setidaknya, sebelum mencicil atau membeli rumah, ada gambaran tentang cara melunasi.
”Karena income tidak hanya digunakan untuk mencicil rumah pastinya. Ada kebutuhan untuk menyisihkan yang lain seperti tabungan dana darurat, asuransi, kesehatan, dan investasi,” urainya.
Rizqi menuturkan, jika rasio cicilan dibanding income di atas 25 persen, opsi sewa lebih aman dan rasional. ”Lebih baik kita tunda untuk membeli hunian. Sambil menyewa, kita memupuk DP yang lebih besar agar cicilan bisa kita tekan,” tuturnya.
Berbicara mengenai dilema sewa atau beli rumah, CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengakui bahwa generasi milenial dianggap sulit membeli rumah pertama. Biaya hidup yang tidak seimbang dengan pendapatan membuat sulit membeli rumah.
Imbasnya, mereka frustrasi dan mengalihkan prioritas pada leasure seperti traveling atau kuliner dibanding menabung untuk membeli rumah.
”Prioritas tersebut merupakan bentuk frustrasi generasi milenial lantaran harga properti yang terlalu tinggi. Bukan mereka tidak mau beli,” ujarnya.
Menurut Ali, pemerintah juga berupaya meningkatkan rasio kepemilikan rumah. Misalnya, program terobosan rent to own sehingga memungkinkan nasabah menyewa rumah lebih dulu untuk kemudian diubah menjadi hak milik.
Setelah perjanjian sewa itu selesai dan telah memenuhi nilai kesepakatan hak milik, bisa dilanjutkan dengan kredit pemilikan rumah (KPR). ”Jadi, program ini mengakomodasi milenial yang belum memiliki daya cicil, tapi punya daya sewa. Dan, ketika sewa sudah selesai, properti bisa menjadi hak milik atau aset,” beber Ali.

15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Rekomendasi Mall Terlengkap di Surabaya, Surganya Liburan Anak Muda Buat Shopping
Diperiksa 2 Jam soal Penyalahgunaan AI, Freya JKT48 Serahkan Bukti Akun Baru ke Polisi
Santriwati di Pekalongan Diklaim Keluarga Hamil Tanpa Berhubungan, Masa Iya?
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Gelombang Dukungan untuk Nicko Widjaja Menguat Usai Tuntutan 11 Tahun
17 Kuliner Gado-Gado Paling Laris di Jakarta, Cocok untuk Makan Siang Bersama Teman dan Keluarga
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
