
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Menuju akhir masa jabatan pertamaku, aku mulai menyusun sebuah strategi. Aku mulai dengan lembaga yang akan menjadi pengganjalku untuk mendapatkan uang dalam mendanai rencana besar ini, lembaga pengawas korupsi. Sebagai kepala negara aku memiliki badan intelijen, nila di masa lalu pemimpin lembaga itu sangat mudah ditemukan. Lembaga itu segera kulibas. Tentu saja kulakukan atas nama kepentingan bersama, para pejabat dan anggota parlemen.
Perempuan itu kembali merestuiku sebagai calon kepala negara periode kedua. Kali ini lawanku menggunakan sentimen agama untuk menyerang, yang kuatasi dengan memilih ulama paling berpengaruh sebagai wakilku. Lagi-lagi, warga miskin menyumbang dana kampanye dengan sukarela.
Setelah terpilih kali kedua, aku mulai meletakkan orang-orangku di berbagai lembaga negara, mengubah sistem menjadi sistem yang mendukungku, membuat pengaruh perempuan paro baya itu memudar. Bahkan aku sudah menyiapkan penerus yang akan meneruskan kekuasaanku. Meski tidak menjadi kepala negara, akulah penguasa yang sesungguhnya.
Satu-satunya masalah muncul di akhir masa jabatanku, di mana seorang pemuda bernama Winara, cucu seorang reje di kaki gunung Burni Telong, tiba-tiba muncul dan menudingku seorang penipu. Beberapa orang tolol dan miskin lainnya mulai ikut campur dan menudingku melakukan hal sama. Mereka mulai unjuk rasa.
Aku tidak menanggapi mereka dengan serius, toh sistem dan lembaga negara sudah kukuasai. Aku menjawab dengan enteng setiap tuduhan yang ditimpakan kepadaku, sampai orang-orang mendatangi istana negara dan parlemen.
Aku memutuskan menemui mereka dan menjawab semua tuduhan seperti biasa.
Kenapa menjual aset negara? Kenapa mengizinkan ekspor pasir? Kenapa mencurangi pemilu? Kenapa? Kenapa? Mereka semakin banyak seperti dua ratus jenis marabunta bersiap menggigitku, mendadak lidahku kelu. Suaraku yang keluar, eee… eehh … Mbohh! Aku kembali ke wujud lamaku, seekor sapi! (*)
---
IDA FITRI, Lahir di Bireun 1981. Novel terbarunya Paya Nie (Marjin Kiri, 2024).

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
