Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 6 Oktober 2024 | 16.00 WIB

Kembang Krisanku yang Tangguh

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Jo, di tempat seluas ini pandanganku menangkap sekitar lima gundukan tanah basah, mungkinkah mereka juga korban jiwa ledakan, sama sepertimu? Yang mana kuburmu? Aku bawa beberapa tangkai krisan putih dan nasi kepal. Oh, itu, aku cukup percaya diri untuk melangkah ke salah satu gundukan penuh bunga krisan.

Tepat. Selamat sore, Jo! Oh, namamu terukir kaku di papan nisan ini. Aku yakin kualitas kayu salibnya bagus, tapi tidak dengan kemampuan pengukirnya. Kalau kamu bisa melihatnya, mungkin kamu akan terkekeh sembari mengampelasnya dengan santai, lalu mengukir ulang sendiri namamu. Seperti itulah. Seperti itu. Oh, kamu tahu, banjaran krisan warna-warni ini punya nama di setiap tangkainya. Nama-nama ini milik anak-anak kelas 6; dan yang sebelah situ, kalau tidak salah ingat, adalah milik anak-anak yang sudah lulus. Mereka datang, Jo. Mereka juga kehilangan.

Kali terakhir aku menatap kamu, binar sepasang mata itu masih terpancar cerah, secerah krisan kuning emas yang kamu tanam di depan unit kesehatan. Oh, lihat, matahari tampak lebih jelas bundarannya sore ini. Jo, jika kamu melihatnya, dari bibir ranummu itu pastilah terbit tawa disusul celetukan, ”Krisan oranye!”

Persis seperti waktu kita, bersama anak-anak kelas 6, sore-sore mengunjungi makam pahlawan (yang jaraknya sepelemparan batu dari tempatmu ini). Waktu itu, Jo, aku tidak habis pikir dari mana asalnya energimu mengatur 25 anak –membariskan mereka, merespons pertanyaan dan celotehan mereka, selalu mengingatkan setiap anak untuk mencatat hal-hal menarik yang ditemui selama berkeliling, serta memastikan mereka tidak mengutak-atik helm baja di atas pusara. Oh, lakumu yang demikian itu akan selalu kurindukan.

Sebenarnya, tunggu, aku duduk dulu. Kakiku kram berjongkok lama.

Jo, aku membawa buku agenda milikmu yang tertinggal di rumahku. Setelah hari itu kamu tidak sekali pun menghubungiku, bahkan untuk sekadar menanyakan buku ini. Kamu tahu, aku sempat berpikir kamu ogah mengontakku lagi setelah kejadian malam itu, dan sengaja meninggalkan buku ini untukku (sebab seingatku kamu bukanlah orang yang mudah lupa atau ceroboh meninggalkan barang, apalagi ini barang penting).

Setelah berpikir begitu, tanganku jadi gatal ingin membuka buku bersampul cokelat ini, tapi kutahan-tahan. Dan, aku kerap gelisah sendiri saking kepingin membaca isinya. Ditambah dengan kesulitanku menghubungi ponselmu, rasanya semakin tidak keruan. Maaf, aku jadi makin tidak sopan kepadamu, tapi, sekarang ini, di hadapanmu (bisa kita sebut begitu, kan?), mohon izinkan aku membacanya.

Jo, sejujurnya, aku berharap ada segumpal energi kembali menghidupi tubuhmu. Kubayangkan kamu berontak karena kesulitan bernapas di bawah sana, berhasil mendobrak peti, lekas mengorek-ngorek tanah sampai ke permukaan bumi.

Menatapku.

Aku akan sangat senang, dan kita bisa makan nasi kepal yang kubawa ini sama-sama. Aku bawa beberapa, cukup untuk kita. Lihat, aku mengisinya dengan ikan tuna kesukanmu, juga membalutnya dengan nori. Banyak nori.

Matahari semakin terbenam dan tempat ini jadi keunguan. Jo, tubuhku merasakan dingin dan lembapnya angin hujan, tapi toh kematianmu yang tragis (ya, aku menyebutnya demikian) ini lebih mempan merujak suhu tubuhku. Oh, kembang krisanku yang tangguh, jika kukatakan itu di depanmu saat ini, kamu pasti tertawa dan menyangkal. Selalu menyangkal bila dipuji. Seperti itulah. Seperti itu.

Sekarang, izinkan aku membuka buku agendamu ini secara acak sebagaimana yang sering kita lakukan terhadap Alkitab ketika membaca firman-yang-kita-anggap-ditujukan-kepada-kita-hari-itu. Oh, ada penomoran halaman di pojok kanan atas. Krayon. Pasti kamu membuatnya sendiri. Menggemaskan!

Halaman 40: ada daftar merek yang kukenali sebagai merek pakaian, sepatu, dan tas. Di bawah daftar itu, sampai halaman selanjutnya, tersusun rapi gambar orang-orangan tersenyum lebar. Di antara mereka ada yang mengenakan rok dengan atasan lengan panjang, ada pula yang bergaun cantik; dan di bawah kaki keduanya terdapat tulisan ”linen/katun”. Ternyata begini caranya. Kamu tahu, Jo, selama satu semester lebih kita saling mengenal, aku terkadang punya dorongan untuk membahas selera berpakaianmu meski pada akhirnya tidak pernah kulakukan.

Tidak patut.

Akan tetapi, aku diam-diam membiarkan pikiranku sendiri membayangkan bagaimana kamu mengatur isi rumahmu; mengatur keuangamu setiap bulan; memanfaatkan waktu luangmu. Bagaimana rasanya bergabung di kelompok teatermu? Bagaimana rasanya menjadi pasangamu?

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore