
Cover Buku
Tiga generasi perempuan Oman dalam karya ini setidaknya jadi potret bagaimana perempuan sering kali menjadi gender kedua dalam lingkungan patriarki.
NOVEL dengan judul asli Sayyidat Al-Qamar ini terbit kali pertama dalam bahasa Arab pada 2010, kemudian mendapatkan atensi luar biasa dari dunia internasional ketika memenangi International Booker Prize 2019 untuk edisi terjemahan Inggris, Celestial Bodies. Semenjak itu karya Jokha Alharthi ini telah terbit dalam lebih dari 20 bahasa.
Novel berlatar Oman yang ditulis oleh pengajar Universitas Sultan Qaboos, Muscat, itu kini hadir dalam bahasa Indonesia dalam judul Wanita Rembulan (Moooi Pustaka, 2024). Jokha meminjam kisah 3 perempuan dari 3 generasi berbeda untuk mengungkit ketimpangan yang terjadi dalam kehidupan perempuan.
Salimah, sebagai generasi pertama, diam-diam menjadi korban keculasan Azzan, suaminya, yang kerap menjalin hubungan rahasia dengan perempuan yang dicandra sebagai Rembulan dalam novel. Azzan dan Rembulan suka bermesraan saling berbalas puisi romantis.
Rembulan berbaring di sampingnya di atas pasir. Berbantal tangan masing-masing, mereka meratapi rasi bintang ursa minor yang tampak jelas pada musim seperti ini. (hal 112)
Perempuan pada generasi selanjutnya, anak Salimah dan Azzan, yakni Mayya, Asma, dan Khawla. Tiga perempuan tersebut mengalami ketidakadilan sebagai perempuan yang berbeda-beda, paling pokok tentu bagaimana mereka dan perempuan Oman pada umumnya tidak memiliki kebebasan dalam menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup.
Mayya digambarkan sangat pendiam dan sehari-hari menghabiskan waktu di depan mesin jahit, menikah dengan Abdullah, meski Abdullah bukan lelaki yang dicintainya. Dalam doanya bahkan Mayya berdoa: ”Tuhan Yang Maha Agung, aku tak menginginkan apa pun selain melihatnya. Tuhan Yang Maha Agung, aku tak ingin ia melihat ke arahku, tetapi aku ingin melihatnya.” (hal 1)
Asma si anak kedua yang digambarkan sangat menyukai membaca dan buku nyatanya menerima pinangan salah satu anak seorang imigran. Dan, yang justru memiliki porsi tidak banyak dibanding dua saudara perempuan tuanya, Khawla, menolak semua pinangan lelaki.
Dia menunggu kekasihnya, Nasir, yang pergi ke Kanada dan kelak pulang memikul kekalahan –gagal studi dan dikucilkan sosial. Khawla sejatinya memiliki patron sebagai perempuan gigih memperjuangkan apa yang dikehendaki, sayang dalam cerita nasibnya tak ubahnya saudara lainnya: harus menjumpai kekalahan.
Generesi ketiga, London –anak sulung Mayya dan Abdullah, meski tidak lagi tinggal di Oman, tetap mengalami kekalahan dan sakit oleh lelaki. London harus bercerai dari suaminya.
Tiga generasi perempuan Oman itu setidaknya jadi potret bagaimana perempuan sering kali menjadi gender kedua dalam lingkungan patriarki. Perempuan muda, misalnya Asma, tidak diperkenankan ikut menimbrung dalam obrolan perempuan-perempuan dewasa.
Baca Juga: Batu Belah Batu Betangkup
Ketika lepas melahirkan dan masih dalam masa nifas, Mayya dilarang makan bersama orang-orang sebab najis. Dia harus makan terpisah. Mayya pun sejatinya tidak diperkenankan memberi nama kepada jabang bayinya, sebab nama adalah prerogatif suami. Maka ketika anak perempuan sulungnya ia beri nama London, Mayya ditegur keras oleh banyak pihak. ”Adakah orang yang menamai putrinya London? Itu nama kota, kota orang-orang Kristen.” (hal 7)
Ketimpangan lain yang sangat kentara adalah hanya laki-laki yang diperkenankan pergi jauh demi pendidikan. Dua contoh Abdullah, suami Mayya, dan Nasir, lelaki pujaan Khawla. Dua lelaki ini boleh berkelana hingga Mesir dan Kanada –sedang perempuan kembali mengurusi urusan domestik.
Pembagian peran berbasis gender inilah yang dikritik banyak aktivis perempuan. Salah satu buku Betty Friedan yang sangat terkenal, The Problem That Has No Name, telah menunjukkan gejala demikian dalam kehidupan perempuan Amerika pasca-Perang Dunia II.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
