Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 21 April 2024 | 14.47 WIB

Suara Perempuan Indonesia dalam Bunga Rampai Sastra Hindia Belanda

Cover Buku - Image

Cover Buku

Suwarsih Djojopuspito dan Partini Djajadiningrat, dua perempuan terpelajar, yang karyanya dibahas dalam buku ini menyuarakan suara Indonesia dalam hierarki kolonial.

SEJARAH sastra Indonesia nyaris melupakan sastra Hindia Belanda. Sama seperti sejarah perkembangan sastra peranakan Tionghoa Indonesia.

Padahal keduanya memberikan kontribusi perkembangan sastra di Indonesia sampai detik ini. Ada dua lema penting yang disodorkan penyunting bunga rampai ini soal kajian sastra Hindia Belanda, yakni sastra Hindia Belanda serta poskolonial dalam meninjau tema besar buku ini: sastra Hindia Belanda.

Penyunting buku ini menegaskan bahwa konsep poskolonial merujuk pada pendekatan kritis terhadap teks kolonial (halaman 15). Guna memahami peta pengetahuan mengenai sastra Hindia Belanda dan kesinambungannya, penyunting buku menggolongkan babakan periodesasi yang terentang dalam kurun akhir abad XIX hingga babakan waktu sekarang ini. Mulai karya Multatuli, E. Briton de Nijs, Du Perron, hingga Jerome Brouwers serta Dido Michielson.

Lema kedua adalah pendekatan poskolonial. Ketiga belas artikel tentang penulis sastra Hindia Belanda yang terangkum dalam buku ini difokuskan pada karya-karya fiksional dalam bentuk novel, roman serta fiksi di luar drama, serta puisi.

Setiap kajian mewakili produk zaman masing-masing seperti babakan/periode Dari Hindia Lama: Abad Ke-19 yang diwakili novel Multatuli, Max Havelaar, P.A. Daum, dan Louis Couperus. Berikutnya babakan Dari Hindia Belanda ke Indonesia: Paruh Pertama Abad Ke-20 seperti karya Hendricus Scheepstra, Suwarsih Djojopuspito, dan Partini Djajadiningrat/Arti Purbarini. Serta periode 1945 hingga Kini: Retrospeksi dan Penulisan Balik yang terdapat nama Dido Michielson, Frances Willem Karsten, dan Jerome Brouwers.

Mengadopsi gagasan Edward Said dalam Orientalism, pendekatan poskolonial mencerminkan teks yang terdiri atas representasi atas realitas. Hanya, yang dicerminkan oleh representasi tersebut bukanlah realitasnya, melainkan interpretasi terhadap realitas itu.

Batasan Sastra Hindia Belanda

Apa yang membedakan sastra Hindia Belanda dengan sastra Indonesia? Toh istilah Hindia Belanda nantinya mengacu istilah Indonesia sekarang. Serta tema yang diangkat mengenai lingkungan dan kehidupan masyarakat Hindia Belanda (Indonesia tempo doeloe).

Dalam memberikan pengantar, Rhomayda Alfa Aimah yang sekaligus penerjemah menyodorkan batasan sastra Hindia Belanda sebagai karya sastra dalam bahasa Belanda pada masa kolonialisme Belanda di Indonesia atau yang mengangkat tema Hindia Belanda (halaman iv-v). Oleh karena itu, nuansa sense of romantic wilayah, kehidupan, masyarakat, di mana penulisnya pernah menjadi bagian di dalamnya mengendap sebagai memori personal diaktualkan dalam goresan novel dan roman. Kenangan terakhir saat mereka harus hengkang saat periode dekolonisasi.

Menjadi pertanyaan apakah sastra Hindia Belanda didominasi oleh penulis Belanda atau Indo Eropa. Ternyata tidak. Terdapat penulis Indonesia yang terklasifikasi sebagai katalog karya sastra Hindia Belanda. Sebut saja nama Noto Soeroto, priayi terpelajar Pakualaman; Suwarsih Djojopuspito dengan novelnya Buiten heet gareel (1940); Arni Purbarini/Partini Djajadiningrat, Widijawati (1948), dan karya Basuki Gunawan yang menelisik revolusi 1945 serta diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit ternama dengan judul Winarta.

Sepintas Isi Kajian

Pembuka buku ini adalah artikel tentang interpretasi Jacqueline Bel mengenai karya Multatuli, Max Havelaar. Oleh banyak pengamat novel ini menjadi daya dobrak terhadap kolonialisme dan struktur feodalisme masyarakat pribumi Hindia Belanda, khususnya di Lebak, Banten.

Tak ada kebaruan yang disodorkan Jacqueline Bel soal Max Havelaar, terkecuali telaah fragmen-fragmen tokoh cerita yang didominasi laki-laki kulit putih. Meski terlampir cerita Saijah dan Adinda, tetap tokoh-tokoh pribumi hanya memainkan peran pendukung dan tidak memiliki suara sendiri (halaman 44).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore