Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 Oktober 2025 | 23.51 WIB

Survei PPPI: Mayoritas Pengemudi Ojol Pilih Potongan 20% untuk Promo dan Insentif daripada 10% tanpa Tambahan Manfaat

Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda Indonesia) melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (17/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) yang tergabung dalam Gabungan Aksi Roda Dua Indonesia (Garda Indonesia) melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (17/9/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Mayoritas pengemudi ojek online (ojol) lebih memilih potongan komisi 20% yang disertai promo dan insentif ketimbang potongan 10% tanpa manfaat tambahan. Hal itu terungkap dalam survei Paramadina Public Policy Institute (PPPI) terhadap 1.623 mitra pengemudi Gojek aktif di enam kota besar Indonesia.

Survei yang dilakukan pada 23–26 September 2025 itu menunjukkan 60,8% responden mendukung skema potongan 20% karena dianggap kembali dalam bentuk promo pelanggan, insentif pengemudi, serta manfaat tambahan seperti diskon perawatan kendaraan, paket data, hingga sembako. Sementara 39,2% responden lebih memilih potongan 10% tanpa fasilitas tambahan.

Managing Director PPPI Ahmad Khoirul Umam menilai temuan ini memberi perspektif baru dalam perdebatan publik terkait potongan komisi.

“Secara umum, pengemudi ternyata tidak semata-mata menolak potongan komisi 20%. Mayoritas memahami komisi itu akan kembali lagi kepada mereka melalui promo dan insentif,” ujarnya, Rabu (1/10).

Survei juga menemukan bahwa 81% pengemudi menilai stabilitas pendapatan bersih harian lebih penting dibandingkan pendapatan bersih per order.

Selain itu, 72,9% responden menilai promo pelanggan sangat penting untuk menunjang penghasilan, terutama bagi mereka yang aktif lebih dari delapan jam per hari.

Peneliti PPPI Annisa Rizkiayu Leofianti menambahkan, 77,8% pengemudi yang didominasi mitra berpengalaman di atas lima tahun memahami alasan penetapan potongan 20% oleh aplikator. Namun, sekitar 22,2% responden mengaku tidak mengetahui peruntukannya.

“Industri transportasi online sudah menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi digital. Karena itu ekosistemnya harus dijaga agar adil bagi pengemudi sekaligus berkelanjutan bagi bisnis,” kata Annisa.

Menurut data ITB, pada 2022 industri transportasi online menyumbang Rp382,62 triliun atau 2% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tim peneliti PPPI menekankan pentingnya kebijakan yang seimbang agar sektor ini tetap memberi kontribusi besar bagi perekonomian sekaligus menjadi instrumen kesejahteraan bagi pengemudi, aplikator, dan konsumen.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore