Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 23 Juli 2020 | 04.45 WIB

Euforia Uji Klinis Bio Farma, Saham INAF dan KAEF Kena Auto Rejection

Petugas melintas di depan layar yang menampilkan informasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat (3/4), ditutup positif. IHSG naik 91 poin (2%) ke level 4.623. FOTO : FEDRI - Image

Petugas melintas di depan layar yang menampilkan informasi perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (3/4). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan Jumat (3/4), ditutup positif. IHSG naik 91 poin (2%) ke level 4.623. FOTO : FEDRI

JawaPos.com - Harga saham dua emiten pelat merah di sektor kesehatan, yakni PT Indofarma Tbk (INAF) dan PT Kimia Farma Tbk (KAEF) meroket hari ini, Rabu (22/7). Bahkan pergerakan saham keduanya menyentuh batas atas maksimal kenaikan harian atau auto rejection atas sebesar 25 persen.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia, pergerakan saham INAF menguat 24,92 persen di level Rp 1.880 per saham dengan nilai transaksi Rp 29,33 miliar dan volume perdagangan 16,21 juta saham. Sedangkan saham KAEF meroket 24,78 persen di level Rp 2.140 per saham dengan nilai transaksi Rp 144,9 miliar dan volume perdagangan 70,22 juta saham.

Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, melambungnya kedua harga saham tersebut tidak terlepas dari perusahaan induk (holding) BUMN Farmasi PT Bio Farma (Persero), induk KAEF dan INAF yang tengah mempersiapkan uji klinis tahap 3 pada vaksin Covid-19.

"Itu yang naik kencang KAEF lebih ke sentimen vaksin. Apalagi Bio Farma sudah bekerja sama dengan perusahaan Tiongkok. Jadi, datang vaksinnya," ujarnya saat dihubungi oleh JawaPos.com, Rabu (22/7).

Seperti diketahui, Bio Farma akan menggunakan 2.400 vaksin Sinovac dari Tiongkok yang tiba 19 Juli 2020, untuk awal uji klinis tahap 3 yang akan mulai dilakukan pada Agustus. "KAEF juga bekerja sama dengan perusahaan Rusia juga kan," ucapnya.

Meskipun demikian, Hans Kwee menyebut, meroketnya saham INAF dan KAEF hanyalah berlangsung dalam jangka pendek. Sebab, hal itu hanya respons psikologis investor yang sangat berharap masa pandemi Covid-19 dapat diakhiri dengan keberadaan vaksin.

Menurutnya, dalam proses pengembangan vaksin Covid-19 sendiri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Sebab, sekelas perusahaan negara maju seperti Amerika Serikat (AS) saja menyatakan paling cepat akhir tahun ini baru dapat diproduksi secara masal.

"Ini sentimen positif jangka pendek. Butuh waktu, prosesnya panjang. Kalau kita lihat AS mereka perkirakan Desember baru bisa diproduksi masal," pungkasnya.

https://www.youtube.com/watch?v=boFClQoEZr4

 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore