
Ilustrasi: Masyarakat Indonesia ditemukan gemar menggunakan internet untuk belanja online. (SCMP).
JawaPos.com - Operator telekomunikasi kini tengah berinovasi agar memberikan layanan koneksi internet yang optimal bagi pelanggannya. Yaitu, dengan melakukan konvergensi layanan telekomunikasi atau fixed mobile convergence (FMC).
Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menuturkan, penerapan dua layanan dalam satu genggaman ini sudah direncanakan sejak 2005 di Indonesia. Teknologi itu merupakan penggabungan ekosistem antara layanan fixed broadband (internet rumahan) dan mobile broadband (internet dari ponsel pintar).
"Pada dasarnya tren telekomunikasi adalah transformasi yang arahnya efisiensi, sehingga operator seluler bisa fokus memberikan layanan yang semakin baik ke masyarakat," ungkap Heru Sutadi, Jumat (11/10).
Apalagi dengan datanya terjadi penurunan penetrasi layanan mobile. Sementara pasar fixed boradband masih berpeluang tumbuh. Pasar rumah tangga Indonesia sekitar 45 juta. Sedangkan layanan fixed braodband baru menjangkau 10 juta pelanggan, sehingga masih bisa bertumbuh hingga 20 juta pelanggan dalam beberapa tahun mendatang.
Heru Sutadi mengingatkan, jangan sampai penyatuan layanan fixed dan mobile broadband menimbulkan double cost network. Apalagi saat ini sejumlah operator telekomunikasi tengah mengembangkan layanan 5G untuk mobile.
Sementara itu, pengamat ekonomi Piter Abdullah mengatakan, konvergensi layanan fixed dan mobile broadband harus dilakukan secara bertahap. Jika dilakukan sekaligus, maka biayanya besar. Ia sepakat jika konvergensi layanan telko tidak dapat ditolak dan meyakini kalau FMC tidak akan membebani konsumen, terutama dari sisi harga.
Sejumlah inisiasi FMC sudah dilakukan operator telekomunikasi seperti XL Axiata, Smartfren, hingga Telkom Group. "Intinya mereka enggak mau melakukan sesuatu yang merugikan konsumen dan akhirnya pindah," ungkap Piter yang juga dosen Perbanas Institute itu. Jika dianalogikan, layanan internet kini sudah menjadi detak jantung kehidupan, sehingga harus berjalan lancar tanpa gangguan apa pun.
Berdasarkan laporan Speedtest Global Index 2023, rata-rata kecepatan fixed dan mobile broadband di Indonesia masing-masing hanya sebesar 25,59 Mbps dan 21,35 Mbps. Dengan kecepatan tersebut, Indonesia tercatat menempati posisi ke-120 dari 180 negara untuk kecepatan fixed broadband dan posisi ke-101 dari 140 negara untuk kecepatan internet seluler.
Laporan Google, Temasek, Bain & Company di 2022 menyebutkan penetrasi digital baru mencapai 78 persen. Indonesia telah memimpin ekonomi digital untuk regional Asia Tenggara dengan nilai Gross Merchandise Value (GMV) atau nilai penjualan bruto mencapai USD 77 miliar (Rp 1.198,3 triliun).

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
