Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 8 Desember 2017 | 09.40 WIB

Menebak Penyebab Langkanya Gas Melon di Sejumlah Daerah

Gas elpiji 3 kg - Image

Gas elpiji 3 kg

JawaPos.com - Hampir satu bulan, warga Jakarta sulit mendapatkan gas melon ukuran 3 kilogram. Alhasil, akibat langkanya gas melon itu, warga menjadi sulit beraktivitas.


Winda (42), salah seorang warga RT 03/01 Kalideres, Jakarta Barat mengeluhkan langkanya penjualan gas 3 kilogram. Kelangkaan gas tersebut membuatnya bingung memasak untuk memberikan makan keluarganya.


"Sudah cari ke sana ke mari tapi kosong. Kita bingung mau masak kagak bisa. Sudah mau jalan sebulan," tutur Winda.


Selain di Jakarta, ketersediaan gas elpiji 3 kilogram di Kota Pekalongan, terpantau masih sulit dicari. Akibatnya harga gas melon melambung tinggi. Rata-rata harga gas 3 kg di tingkat pengecer kini sudah mencapai Rp 19.000 hingga Rp 21.000 per tabung. Di tingkat pangkalan saja, harga gas banyak didapati melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan yakni Rp 15.500 per tabung.


Hidayah, warga Kraton Kidul mengaku sudah sebulan terakhir kesulitan mencari gas bersubsidi tersebut. "Di kampung-kampung sudah susah, sudah tidak ada. Makanya ketika ada operasi pasar seperti ini kami rela menunggu," kata Hidayah.


Menurut Unit Manager Communication & Relations Pertamina Jawa Bagian Barat Dian Hapsari Firasati, persediaan gas elpiji yang menipis ini disebabkan tingginya permintaan saat libur panjang beberapa waktu lalu. Menurutnya, banyak masyarakat yang memasak lebih banyak saat perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.


"Permintaan saat libur panjang kemarin memang mengalami peningkatan. Sepertinya karena libur panjang, banyak keluarga yang memasak lebih banyak dari biasanya atau karena ada kegiatan peringatan keagamaan," ujar Dian kepada JawaPos.com.


Perusahaan pelat merah ini pun enggan disalahkan ihwal terjadinya kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg) di sejumlah daerah. Sebab, perseroan telah melaksanakan apa yang telah diamanatkan oleh pemerintah.


External Communication Manager PT Pertamina (Persero)‎ Arya Dwi Paramita‎ mengatakan, kelangkaan gas melon yang terjadi di beberapa daerah disebabkan karena adanya over demand dari masyarakat. Padahal, seharusnya kebutuhan akan gas melon tidak melebihi kuota yang telah disiapkan oleh perseroan. Hal itu lantaran masyarakat mampu justru lebih banyak yang menggunakan gas elpiji 3 kg.


"Kalau dari kita prinsipnya sesuai ketentuan pemerintah. Kan LPG 3 kilogram untuk masyarakat miskin, sementara banyak yang tidak miskin menggunakan 3 kilogram," ujar Arya.


"Pemerintah kan ada keterbatasan otomatis yang tidak berhak menggunakan maka akan terjadi kelebihan pemakaian," tambahnya.


Untuk itu, dirinya meminta agar masyarakat yang tak berhak agar tidak membeli gas elpiji 3 kg. Sebab, pihaknya telah menyiapkan opsi pengganti gas melon dengan produk Bright Gas yang memiliki volume 5,5 kg dengan harga yang tak terlalu mahal.


"Kalau yang tidak berhak disarankan tidak menggunakan yang 3 kg. Nah, makanya kita siapkan Bright Gas yang nonsubsidi. Kalau yang 12 kg kebutuhan tidak sebesar itu, maka kita siapkan yang 5,5 kg," jelasnya.


Atas kelangkaan ini, Pertamina pun melakukan operasi pasar dengan menambah pasokan gas 3 kg ke agen atau pangkalan resmi.


"Pertamina sudah melakukan operasi pasar sejak Senin (4/12) dan rencananya akan berlanjut sampai Kamis (7/12). Beberapa wilayah yang sudah menerima operasi pasar adalah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Depok pada tanggal 4 dan 5 Desember 2017. Operasi pasar pun berjalan dengan lancar,” ujar Dian.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore