
Polda Bali memberi keterangan pers hasil otopsi jenazah dua WNA Tiongkok yang ditemukan meninggal dunia.
JawaPos.com–Laboratorium Forensik (Labfor) Kepolisian Daerah (Polda) Bali bersama ahli forensik RSUP Ngoerah, Sanglah, Denpasar, menemukan ada tindakan kekerasan di tubuh perempuan WNA Tiongkok, Cheng Jianan, 22, yang dilakukan pacarnya Li Chiming, 25, sebelum ditemukan meninggal dunia.
”Dari hasil otopsi terhadap jenazah CJ, ada beberapa hal yang melemahkan korban ini yakni dibuat lemah atau mungkin tidak sadar, lalu dimasukkan bathub,” kata ahli forensik RSUP Sanglah Denpasar dokter Dudut Rustyadi seperti dilansir dari Antara.
Dia mengatakan, temuan yang melemahkan kondisi korban yakni luka memar di dahi. ”Artinya ada trauma di kepala yang mungkin dapat membuat korban tidak sadar atau penurunan kesadaran sehingga dimudahkan untuk dimasukkan bathub. Kondisi kedua yang melemahkan korban adalah adanya luka lecet yang berbentuk garis yang disebabkan jeratan (leher),” tutur Dudut Rustyadi.
Dari hasil penelitian bersama Dokter Kunthi Yulianti, ditemukan bahwa sebelum korban CJ meninggal dunia dalam bathub kamar mandi hotel di Jimbaran, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, 1 Mei, LC diduga melakukan kekerasan yang menyebabkan CJ kehilangan kesadaran.
”Kematian CJ karena adanya cairan yang masuk saluran pernapasan korban. Korban (CJ) dimasukkan dalam bathub, tetapi dalam kondisi masih hidup, penurunan kesadaran atau lemah. Begitu masuk dalam bathtub ada cairan yang masuk itu yang membuat korban menjadi meninggal. Setelah melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap CJ, LC selanjutnya melakukan tindakan bunuh diri,” kata dokter Dudut.
Dokter Dudut mengatakan, dari hasil pemeriksaan luar terhadap jenazah perempuan JC, tim forensik menemukan ada beberapa luka memar pada permukaan yang tersebar di beberapa daerah tubuh dimulai dari dahi bagian kiri, pada anggota gerak mulai dari bahu kanan, lengan bawah, tungkai bawah dan lutut.
Selain luka memar tersebut, ahli juga menemukan luka lecet pada leher bagian depan kiri dan kanan yang berbentuk garis dengan panjang bervariasi mulai dari 2 cm sampai 5 cm. Selanjutnya, kata Dudut, mereka melakukan pemeriksaan organ dalam untuk mencari sebab luka memar di dahi dan leher CJ. Pada saluran pernapasan, dokter menemukan ada busa dari mulut dan hidung korban.
”Selanjutnya dari pemeriksaan organ-organ dalam, kami menemukan ada tanda-tanda mati lemas atau kekurangan oksigen. Dari temuan-temuan tersebut, kami simpulkan bahwa luka-luka tersebut akibat kekerasan benda tumpul. Untuk busa halus tersebut itu sesuai dengan orang yang meninggal karena tenggelam,” kata dokter Dudut.
Selanjutnya, kata dia, luka lecet seperti garis di leher itu sesuai dengan peristiwa penjeratan, sehingga dari temuan-temuan tersebut, ahli menyimpulkan bahwa penyebab kematian korban inisial JC adalah akibat masuknya air ke dalam saluran pernapasan korban yang menyebabkan korban mati lemas.
Sementara itu, Dokter Kunthi Yulianti yang mengotopsi jasad Li Chiming menjelaskan, penyebab kematian pada jenazah LC adalah kekerasan tajam pada leher yang mengakibatkan terputusnya pembuluh darah balik bagian kanan dan kiri yang menimbulkan pendarahan.
”Dari pemeriksaan otopsi, kami simpulkan bahwa luka-luka yang ada pada leher kanan dan kiri, kedua punggung tangan kalo kami lihat dari luka terbuka yang bergerombol ada yang dalam, juga luka lecet gores itu merupakan luka-luka biasa terjadi pada orang yang melukai dirinya sendiri,” kata Kunthi Yulianti.
Dokter Kunthi menjelaskan dari pemeriksaan luar, terdapat 20 luka yang tersebar pada tubuh berupa luka-luka terbuka yang di setiap lokasinya bergerombol, kemudian ada luka lecet gores dan luka memar. Setelah dianalisis, luka-luka tersebut disebabkan kekerasan benda tajam yang khas merupakan luka-luka iris.
”Dari pemeriksaan dalam, kami temukan luka terbuka yang bergerombol di leher kanan dan kiri itu menyebabkan terputus atau terpotongnya pembuluh darah balik yang disebut pembuluh vena jugularis eksterna,” tutur Kunthi Yulianti.
Selain itu, juga ditemukan organ-organ dalam yang tampak pucat dan darah yang sedikit pada saat jasad LC diotopsi. Pada akhirnya, tim dokter ahli forensik RSUP Sanglah menyimpulkan bahwa LC melukai diri sendiri. Hal tersebut dibuktikan dari hasil analisis lokasi luka, di mana luka-luka tersebut adalah luka-luka yang terjangkau artinya yang bisa diraih diri sendiri.
Dokter Kunthi mengatakan dari polanya, luka-luka tersebut bergerombol lebih dari satu di mana ada luka yang dalam dan ada luka yang dangkal termasuk luka lecet yang menunjukkan luka-luka percobaan. Hasil otopsi menunjukkan bahwa yang ditemukan pembuluh darah yang terputus itu adalah pembuluh darah balik atau pembuluh darah vena di mana kalau pembuluh darah vena terluka maka darah akan keluar dengan lambat. Dan luka tersebut akan menyebabkan kematian dalam waktu yang tidak cepat.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
