
Photo
JawaPos.com - Sapi Bali telah dikembangkan di Pulau Dewata sejak dahulu kala dan telah diyakini keunggulannya dibandingkan dengan sapi-sapi lokal lainnya, sehingga dipandang sebagai kekayaan nasional yang patut dijaga kelestariaanya. Hal ini terlihat dari lahirnya keputusan dewan Raja-raja di Bali tanggal 25 Juli 1947 yang isinya dibuat untuk mempertahankan kemurnian genetik sapi Bali.
Hal ini juga diperkuat dengan pergub Bali no. 45 tahun 2004, tentang pelestarian sapi Bali, dimana sapi dari luar Bali (termasuk juga sapi Bali) dilarang dimasukkan dan dipelihara di Bali, dengan demikian sapi Bali sampai saat ini masih terjaga kemurnian genetiknya.
Sapi sangat berperan dalam upacara adat di bali. Setiap upacara yang dilaksanakan umat Hindu pada intinya terkandung fungsi-fungsi tertentu. Teori fungsionalisme struktural menyebutkan fungsi tersebut dapat berupa fungsi yang tampak (manifest) dan fungsi yang tidak tampak atau laten.
Kesakralan sapi juga terkait dengan ajaran Hindu. Fungsi sapi sebagai simbol-simbol agama adalah (1) Memantapkan dan meningkatkan sradha (keimanan atau keyakinan) umat dalam rangka menumbuhkan bhakti (ketaqwaan), yang akan membentuk kepribadian umat manusia dengan moralitas yang tinggi yang pada akhirnya akan meningkatkan akhlak luhur masyarakat, (2) Menumbuh-kembangkan dan tetap terpeliharanya nilai-nilai seni budaya melalui seni arca, seni lukis, dan seni kriya lainnya, (3) Memupuk rasa kebersamaan di kalangan umat Hindu dalam mewujudkan sarana pemujaan, utamanya dalam kaitan dengan sakralisasi dan memfungsikan simbol-simbol yang dibuat.
Hampir setiap upacara di Bali menggunakan persembahan berupa ternak, diantaranya adalah sapi. Sapi digunakan diberbagai upacara baik itu upacara dewa yadnya maupun butha yadnya seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Photo
Pelaksanaan upacara atau yadnya yang dimuat dalam kerangka dasar Agama Hindu, di dalam pelaksanaannya di masing-masing desa adat di Bali sangat berbeda-beda, lazimnya disebut Desa Mawa Cara atau Desa Kala Patra, yaitu pelaksanaan upacara atau yadnya disesuaikan dengan daerah setempat.
Kala dan Patra dapat diuraikan. Desa adalah tempat dari pelaksanaan upacara, Kala adalah dauh atau waktu pelaksanaan upacara, dan Patra adalah bagaimana keadaan dan bentuk pelaksanaannya dalam kehidupan manusia di muka bumi ini.
Sapi juga sangat bermanfaat sebagai sumber protein hewani, baik daging maupun susunya. Sapi juga membantu manusia untuk membajak sawahnya, terutama di daerah yang beterasering dan sulit untuk dijangkau oleh transportasi. Membajak sawah dengan sapi ini memberikan keindahan dan wisata alam yang digemari oleh wisatawan dan tidak menimbulkan polusi udara.
Beberapa bagian tubuh sapi lainnya juga sangat berguna bagi kehidupan manusia. Tulang sapi dapat diukir menjadi hiasan dan banyak dijual di pinggiran Tampaksiring dengan harga yang cukup tinggi. Sapi juga bisa dimanfaatkan sebagai objek hiburan di Bali, terutama didaerah Buleleng yang disebut dengan sapi gerumbungan.
Atraksi warisan leluhur ini berawal dari ungkapan kegembiraan para petani karena hasil garapannya yang melimpah. Kata 'gerumbungan' berarti sebuah genta besar yang digantungkan pada leher-leher sapi. Dalam peserta lomba sapi gerubungan ini, tidak semua jenis sapi bisa ikut. Hanya sapi jantan saja, dan itupun dipilih dari sapi yang berbadan kekar.
Pemilihan sapi jantan dilakukan oleh kelompok ternak dengan berbagai kriteria. Mereka mempersiapkan pejantan-pejantan muda untuk disiapkan dalam pementasan sapi gerumbungan, di mana sapi-sapi tersebut harus bisa mentas dengan gerak langkah yang seragam, ekor melengkung dan kepala mendongak ke atas.
Karena banyaknya fungsi dari sapi bagi kehidupan manusia Hindhu Bali maka ada beberapa masyarakat asli Bali tidak mengkonsumsi daging sapi karena sapi dianggap ibu yang memberi kehidupan melalui produksi susunya sebagai pengganti susu ibu, sehingga sebagian besar masyarakat Bali tidak tega mengkonsumsi daging sapi sbagai bentuk penghormatan kepada sapi.
Photo
DR. IR. Ni Made Ayu Gemuh Rasa Astiti, MP, Dosen Program Studi Magister Sains Pertanian
Pascasarjana Universitas Warmadewa

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
