Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 21 Februari 2022 | 14.25 WIB

Warga Berburu Cacing Laut di Pantai Seger Mandalika

Warga berburu cacing laut dalam acara adat Bau Nyale di Pantai Seger, Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin (21/2) dini hari. Akhyar/Antara - Image

Warga berburu cacing laut dalam acara adat Bau Nyale di Pantai Seger, Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin (21/2) dini hari. Akhyar/Antara

JawaPos.com–Warga dari berbagai daerah turun ke Pantai Seger di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mereka menangkap cacing laut dalam acara adat Bau Nyale pada Senin (21/2) dini hari.

Bersama keluarga dan kerabat, warga mulai berdatangan ke Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika menggunakan motor atau mobil sejak Minggu (20/2) malam. Sebagian dari mereka mendirikan tenda di pinggir Pantai dan Bukit Seger untuk bermalam.

Mereka menunggu cacing laut yang diyakini sebagai jelmaan putri raja dalam legenda Putri Mandalika muncul sekitar pukul 05.00 wita, sebelum matahari terbit. Hujan disertai petir dan angin tidak membuat mereka mengurungkan niat untuk menunggu nyale, yang muncul setiap tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan Sasak.

Ketika cacing laut mulai muncul, warga berduyun-duyun turun ke laut sambil membawa peralatan berupa sorok, ember, dan lampu senter, untuk menangkap cacing laut atau nyale di sepanjang Pantai Seger.

Beberapa pemburu nyale tidak lupa mengabadikan momen tersebut dengan mengambil foto dan berswafoto menggunakan kamera maupun telepon genggam. ”Alhamdulillah nyale keluar hari ini,” kata Ida Wahyuni, warga Praya Barat yang datang ke Pantai Seger bersama keluarga untuk menangkap nyale seperti dilansir dari Antara.

”Tidak banyak, hanya sedikit, sama seperti Sabtu (19/2) kemarin. Ada juga warga yang dapat banyak kalau dia mencari agak ke tengah laut,” sebut Hendri, warga Praya Barat lain yang ikut berburu nyale.

Setelah beberapa tahun, tradisi Bau Nyale kembali digelar di Lombok Tengah. Waktu pelaksanaan Bau Nyale ditetapkan dalam musyawarah para tokoh adat dan budaya setempat.

”Puncak Bau Nyale ini ditentukan tokoh budayawan sesuai dengan tanda alam maupun penanggalan Sasak,” kata Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri.

Pemerintah kabupaten berharap pelaksanaan tradisi Suku Sasak tersebut bisa mendukung pemulihan kegiatan usaha di sektor pariwisata daerah yang sempat terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno berharap pelaksanaan Festival Bau Nyale di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, bisa membangkitkan perekonomian daerah yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

”Ini motivasi kebangkitan kita, semoga ke depan kegiatan perayaan bau nyale ini lebih maksimal,” kata Sandiaga dalam sambutan yang disampaikan pada malam puncak Bau Nyale di Pantai Seger, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Minggu (20/2) malam.

Dia berharap pelaksanaan Bau Nyale, tradisi menangkap cacing laut, bisa menghidupkan kembali kegiatan usaha pariwisata di Lombok Tengah maupun Nusa Tenggara Barat. ”Ini sinyal kebangkitan kita, tapi harus dijaga protokol kesehatan jangan kendor, pakai masker dan jaga jarak, serta cuci tangan,” ucap Sandiaga.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore