Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 7 Desember 2023 | 17.17 WIB

Upaya Pemprov DIJ Menjaga Persediaan Cabai Rawit Berkelanjutan, Gunakan Teknologi Pertanian

Petugas di salah satu ritel modern menata cabai di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Jumat (8/9/2023). - Image

Petugas di salah satu ritel modern menata cabai di kawasan Pasar Rebo, Jakarta, Jumat (8/9/2023).

JawaPos.com–Sekprov DIJ Beny Suharsono mengatakan, salah satu faktor ketidakstabilan harga cabai rawit disebabkan oleh cuaca.

Kemarau panjang yang melanda Indonesia membuat persediaan cabai rawit tidak mencukupi permintaan masyarakat. Petani lebih memilih menanam komoditas lain, yang dapat beradaptasi dengan mudah di musim kemarau.

”Cabai itu masalahnya adalah ketika permintaan naik persediaan kita tidak memadai. Kemarin ada inisiatif lelang cabai setahun sekali,” kata Beny Suharsono, pada Rabu (29/11).

Namun, upaya itu tidak membuat persediaan sustain atau berkelanjutan. Sehingga dibutuhkan upaya lain agar tetap menjaga persediaan cabai berkelanjutan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemprov DIJ mendorong para petani cabai rawit memanfaatkan kemajuan teknologi dalam pola tanam. Hal itu untuk memodifikasi cuaca, merespons kenaikan harga cabai yang masih fluktuatif di wilayah Jogjakarta.

”Tapi petani bilang nggak mungkin, masak tanam cabai ketika musim hujan, kan ada teknologi,” terang Beny Suharsono.

Dilansir dari Radar Jogja (Jawa Pos Grup) pada Kamis (7/12), selama ini, pola tanam sejumlah komoditas di wilayah setempat masih mengikuti kemauan petani. Hal itu membuat persediaan pasokan tidak berkelanjutan dan menimbulkan gejolak harga ketika pergantian musim.

Menurut dia, petani di Kabupaten Bantul pernah memanfaatkan teknologi pertanian elektrifikasi atau electrifying agriculture pada lahan pasir untuk tanam bawang merah. Percobaan itu diklaim cukup berhasil ketika masuk musim kemarau. Petani tak lagi pusing memikirkan kebutuhan air untuk pasokan tanaman. 

”Kemarin kita panen di Parangtritis itu kan tidak terkendala atas keringnya tanah,” sebut Beny Suharsono.

Namun, pola tanam memanfaatkan kemajuan teknologi itu belum merata di semua petani DIJ. Kendalanya tak hanya di kalangan petani yang masih terpaku dengan sistem agraris. Pemerintah juga belum mampu meyakinkan petani untuk menggunakan teknologi dalam modifikasi cuaca.

”Itu harus diuji coba dengan segala keberhasilan dan kegagalan. Tanpa uji coba ya nggak bisa, dan ini akan terus begitu,” ucap Beny Suharsono.

Sementara itu, pedagang sayur Pasar Beringharjo, Ida Chabibah mengatakan, kenaikan harga cabai terjadi sekitar dua bulan terakhir. Faktor cuaca yang menyebabkan harga cabai masih fluktuatif. ”Kalau musim hujan harga bisa makin melonjak lagi,” tutur Ida Chabibah.

Ida mengaku tidak berani menyimpan persediaan terlalu banyak. ”Kalau satu kuintal ya sudah habis, kalau kurang nempil kancane kanan-kiri,” jelas Ida Chabibah.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore