Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 November 2018 | 18.53 WIB

Harimau Atan Bintang Biasa Minum Air Seperti Teh

Atan Bintang, harimau Sumatera yang terjebak di lorong ruko kawasan Pulau Burung, Kabupaten Inhil, Riau. - Image

Atan Bintang, harimau Sumatera yang terjebak di lorong ruko kawasan Pulau Burung, Kabupaten Inhil, Riau.

JawaPos.com - Seekor harimau Sumatera terjebak di lorong ruko kawasan Pulau Burung, Kabupaten Inhil, Riau. Setelah berhasil dievakuasi, si belang kemudian diberi nama Atan Bintang. Hewan itu merupakan jenis harimau rawa yang terbiasa minum air warna kecoklatan seperti teh atau air khas lahan gambut.


Ini yang membuat tim medis di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD), Sumatera Barat, cukup kebingungan. Sebab di PRHSD tempat Atan Bintang dirawat, hanya tersedia air pegunungan yang jernih. Sedangkan air rawa sulit didapatkan.


"Makanan dan minumannya ini yang menjadi pemikiran tim medis. Harimau yang kami bawa kemarin hidupnya di rawa-rawa. Sementara PRHSD cenderung pegunungan, airnya jernih," kata Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Rabu (21/11) pagi.


Saat ini, BBKSDA Riau sedang mengakali agar harimau jantan berusia 3 tahun tersebut dapat meminum air rawa. "Ini yang sedang kami usahakan. Moga-moga kami bisa membawa air minum untuk harimau di sana. Air rawa, air yang warnanya seperti teh tadi warnanya," sebutnya.


Meski tak biasa meminum air pegunungan, harimau seberat 80 kilogram itu tetap meminum air setibanya di PRHSD pada Minggu (18/11) lalu. "Dia tetap minum (air gunung). Hanya saja bukan kebiasaan dia minum air jernih seperti itu kan. Sehingga kami bawakan juga air pembanding dari sini. Yaitu air rawa di sini," paparnya.


Sementara untuk makan, Atan Bintang tidak ada permasalahan. Sebab harimau merupakan hewan karnivora. Jadi ketersediaan makanannya di sana sudah mencukupi. "Kalau makanan sama. Karena dia pemakan daging, ya dikasih daging segar dan babi," jelasnya.


Suharyono menjelaskan, harimau rawa dengan harimau pegunungan memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mulai dari postur tubuh hingga warna kulit.


"Beda Harimau rawa dan gunung, kalau harimau rawa postur tubuh lebih besar, warna kulit cenderung lebih terang. Beda harimau gunung, ramping dan tidak sebesar itu. Dibandingkan Ujang Ribut (harimau asal Sumbar), perbedaan fisik jauh banget. Masing-masing harimau memiliki loreng yang beda, tidak ada yang sama," beber Suharyono.


Untuk kondisi Atan Bintang sendiri dinilai cukup sehat. Tapi setibanya di PRHSD, sang harimau mengalami stres karena harus menempuh perjalanan dari Pulau Burung ke PRHSD hampir 15 jam lamanya.


"Kondisi tubuh sehat. Sikap liar dia masih kuat. Kami sedang melakukan observasi menyeluruh untuk mengetahui kondisi harimau tersebut. Hasil observasi akan diketahui setelah 14 hari," sebutnya.


Meski sudah dilakukan evakuasi, Atan Bintang belum dapat dilepasliarkan. Sebab harus dilakukan pengkajian mendalam untuk mengembalikannya ke habitat asal.


"Setelah observasi belum bisa dilepasliarkan. Sebab itu baru identifikasi terhadap kondisi kesehatan. Setelah itu, akan kami laporkan ke menteri dan jenderal. Ke mana harus kami lepaskan. Karena tidak bisa sembarangan dilepasliarkan. Harus sesuai habitatnya," pungkas Suharyono.

Editor: Sofyan Cahyono
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore