
Atan Bintang, harimau Sumatera yang terjebak di lorong ruko kawasan Pulau Burung, Kabupaten Inhil, Riau.
JawaPos.com - Seekor harimau Sumatera terjebak di lorong ruko kawasan Pulau Burung, Kabupaten Inhil, Riau. Setelah berhasil dievakuasi, si belang kemudian diberi nama Atan Bintang. Hewan itu merupakan jenis harimau rawa yang terbiasa minum air warna kecoklatan seperti teh atau air khas lahan gambut.
Ini yang membuat tim medis di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD), Sumatera Barat, cukup kebingungan. Sebab di PRHSD tempat Atan Bintang dirawat, hanya tersedia air pegunungan yang jernih. Sedangkan air rawa sulit didapatkan.
"Makanan dan minumannya ini yang menjadi pemikiran tim medis. Harimau yang kami bawa kemarin hidupnya di rawa-rawa. Sementara PRHSD cenderung pegunungan, airnya jernih," kata Kepala BBKSDA Riau Suharyono, Rabu (21/11) pagi.
Saat ini, BBKSDA Riau sedang mengakali agar harimau jantan berusia 3 tahun tersebut dapat meminum air rawa. "Ini yang sedang kami usahakan. Moga-moga kami bisa membawa air minum untuk harimau di sana. Air rawa, air yang warnanya seperti teh tadi warnanya," sebutnya.
Meski tak biasa meminum air pegunungan, harimau seberat 80 kilogram itu tetap meminum air setibanya di PRHSD pada Minggu (18/11) lalu. "Dia tetap minum (air gunung). Hanya saja bukan kebiasaan dia minum air jernih seperti itu kan. Sehingga kami bawakan juga air pembanding dari sini. Yaitu air rawa di sini," paparnya.
Sementara untuk makan, Atan Bintang tidak ada permasalahan. Sebab harimau merupakan hewan karnivora. Jadi ketersediaan makanannya di sana sudah mencukupi. "Kalau makanan sama. Karena dia pemakan daging, ya dikasih daging segar dan babi," jelasnya.
Suharyono menjelaskan, harimau rawa dengan harimau pegunungan memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Mulai dari postur tubuh hingga warna kulit.
"Beda Harimau rawa dan gunung, kalau harimau rawa postur tubuh lebih besar, warna kulit cenderung lebih terang. Beda harimau gunung, ramping dan tidak sebesar itu. Dibandingkan Ujang Ribut (harimau asal Sumbar), perbedaan fisik jauh banget. Masing-masing harimau memiliki loreng yang beda, tidak ada yang sama," beber Suharyono.
Untuk kondisi Atan Bintang sendiri dinilai cukup sehat. Tapi setibanya di PRHSD, sang harimau mengalami stres karena harus menempuh perjalanan dari Pulau Burung ke PRHSD hampir 15 jam lamanya.
"Kondisi tubuh sehat. Sikap liar dia masih kuat. Kami sedang melakukan observasi menyeluruh untuk mengetahui kondisi harimau tersebut. Hasil observasi akan diketahui setelah 14 hari," sebutnya.
Meski sudah dilakukan evakuasi, Atan Bintang belum dapat dilepasliarkan. Sebab harus dilakukan pengkajian mendalam untuk mengembalikannya ke habitat asal.
"Setelah observasi belum bisa dilepasliarkan. Sebab itu baru identifikasi terhadap kondisi kesehatan. Setelah itu, akan kami laporkan ke menteri dan jenderal. Ke mana harus kami lepaskan. Karena tidak bisa sembarangan dilepasliarkan. Harus sesuai habitatnya," pungkas Suharyono.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
