Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 November 2018 | 20.24 WIB

Lika-liku Sodiq Monata, dari Kuli Batu Jadi Manusia Rp 200 Juta

Sodiq Rifa - Image

Sodiq Rifa

JawaPos.com- Sodiq Monata kini sedang berkibar tinggi ke langit ketujuh. Lelaki yang punya nama lengkap Sodiq Rifa’i itu meniti karir di belantika dangdut dari nol. Sebelum melejit seperti sekarang, sang Raja Dangdut Koplo itu sudah kenyang merasakan pahit getirnya kehidupan.



Dian Ayu Antika Hapsari, Malang



Gayanya slengekan. Low profile. Ala kadarnya. Jauh dari kesan glamor. Seolah hidup tiada beban.


Rambut gondrong ikal ala Bob Marley menjadi salah satu ciri khasnya. Saat mentas, Sodiq begitu menguasai panggung dengan goyangan-goyangan yang menghentak. Tak jarang dia ‘genit’ dengan biduan-biduan cantik yang tiada duanya.


Selama tiga hari, arek asli Pandaan, Pasuruan itu berada di Kabupaten Malang. Sodiq terpilih sebagai salah satu nominator artis paling di hati sebuah anugerah musik dangdut yang dihelat salah satu stasiun televisi swasta.


Saat ditemui JawaPos.com di belakang panggung, Jumat malam (16/11), Sodiq kedandapan. Sepiring nasi kuning masih berada di tangan kirinya. Dia buru-buru meletakkan piring tersebut di atas meja.


Dengan logat Jawa Timuran yang kental, Sodiq langsung menunjukkan kesan humble. Dia begitu hangat dengan wartawan. ”Ayo wis, langsung wawancara ae (Ayo, langsung wawancara saja),” timpal Sodiq menolak tawaran JawaPos.com yang meminta dirinya agar menghabiskan santapannya terlebih dahulu.


Mengenakan kaos oblong warna hitam, celana chino semata kaki, Sodiq mengajak JawaPos.com mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Dia memilih lorong Stadion Kanjuruhan yang sedikit lebih hening. ”Nang kene ae yo mbak (di sini saja ya mbak),” serunya.


Sembari menghela nafas panjang, Sodiq mengaku bersyukur dengan hidupnya saat ini. Dia sudah memiliki jutaan penggemar seantero Indonesia. Orkes Melayu (OM) Monata yang digagasnya, semakin melambung dengan membanjirnya tawaran-tawaran manggung. Baik off air maupun on air.


Mengusung genre koplo, Sodiq mencoba menyajikan nuansa dangdut yang berbeda ketimbang sebelumnya. Lelaki kelahiran 7 April 1968 itu ingin membawa warna baru. ”Penyanyi dangdut yang ganteng itu sudah biasa. Nah saya ini penyanyi dangdut sing elek, nggak mbois blas (yang jelek dan tidak keren sama sekali),” ucapnya lalu terkekeh.


Lamunan Sodiq kemudian menggelayut jauh ke masa lampau. Sodiq masih mengingat betul bagaimana jerih payahnya dulu hingga mencapai ke titik kehidupan sekarang. Baginya, hidup tak semudah membalikkan telapak tangan. Penuh liku-liku perjangan. Penuh onak dan duri.


Dia tak sungkan mengakui bahwa dirinya pernah hidup serba kekurangan."Ibarate melarate wong melarat, wes tahu kabeh aku (ibaratnya miskinnya orang miskin, sudah pernah merasakan semua),"ucap lelaki berusia setengah abad tersebut.


Sodiq mulai menyanyi pada 1996. Kala itu, dia belum berhadapan dengan gemerlapnya panggung. Tidak ada keriuhan penonton.


Status Sodiq waktu itu hanyalah seorang penyanyi jalanan alias pengamen. Dia berpindah-pindah, dari satu bus ke bus lainnya. Blusukan dari kampung ke kampung.


Dua tahun berselang, Sodiq mendapat berkah. Dia mendapat job nyanyi pertamanya. Suaranya yang berat dan berkarakter mampu membius pendengarnya sampai klepek-klepek. Apalagi penampilannya di atas panggung juga nyentrik. Sodiq dengan cepat mudah dikenali dan mulai punya penggemar. 

Editor: Dida Tenola
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore