Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 23 Juni 2017 | 18.45 WIB

Debu Halangi Jarak Pandang Pemudik di Tol Jombang

DIPAKSAKAN: Kondisi jalan tol fungsional Solo–Kertosono, tepatnya di Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, dipenuhi debu. - Image

DIPAKSAKAN: Kondisi jalan tol fungsional Solo–Kertosono, tepatnya di Dusun Kedunggabus, Desa Bandarkedungmulyo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Kabupaten Jombang, dipenuhi debu.


JawaPos.com- Debu beterbangan di ruas jalan tol Solo–Kertosono (Soker) wilayah Bandarkedungmulyo, Jombang. Hal itu terasa sejak jalan tersebut belum difungsikan. Sisi kanan dan kiri jalan masih berupa tanah. Penyiraman pun hanya dilakukan dua kali.



’’Memang benar, di sana banyak debu karena lebih banyak tanah. Kanan dan kiri jalan masih berupa tanah,’’ ujar Indra Rismawansyah, PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) Soker II, saat dihubungi melalui sambungan seluler.



Dia mengakui, setelah resmi difungsikan Senin lalu (19/6), cukup banyak kendaraan yang melintas di ruas jalan tersebut. Akibatnya, debu yang beterbangan di sekitar jalan itu tak terelakkan. Puncaknya terjadi saat siang. Debu yang tersapu angin beterbangan sehingga jarak pandang pemudik sedikit terganggu.



’’Makanya, mulai keluar ruas Moker seksi IV, kami pasang rambu agar kecepatan kendaraan dikurangi supaya debu tidak semakin banyak. Kasihan kendaraan paling belakang, pasti tertutup debu,’’ terangnya.



Untuk sementara, tambah Indra, sudah dipersiapkan penanganan berupa penyiraman, baik di jalan tol fungsional maupun tanah sisi kanan dan kiri jalan. Namun, penyiraman tidak dilakukan setiap waktu, hanya waktu tertentu.



Alasannya, jika penyiraman dilakukan setiap jam, dikhawatirkan lalu lintas akan terganggu. ’’Memang benar, paling banyak saat siang. Tapi, penyiraman sudah kami lakukan pagi dan sore. Jadi, sudah adatangki yang disiapkan di lokasi,’’ ungkapnya.



Selain debu yang beterbangan, pemudik harus mengurangi kecepatan kendaraan karena ruas jalan itu menyeberangi tiga jembatan. Masing-masing dua jembatan bailey dan jembatan Sungai Brantas. Yang paling terlihat tentu saat melintasi jembatan Sungai Brantas. Kondisi jalan menanjak mulai persimpangan jalan desa hingga masuk ke jembatan tersebut.



Itu menjadi titik rawan karena ruas jalan fungsional Soker tak begitu lebar, hanya sekitar 4,5 meter. Kendaraan yang melintas pun tak bisa saling mendahului alias harus beriringan. Untung, persimpangan jalan desa saat ini dijaga sedikitnya empat petugas.



’’Jadi, mereka yang di persimpangan adalah warga setempat. Pihak kontraktor sudah menyerahkan itu kepada pemuda desa,’’ terang Indra.



Sama halnya dengan Moker seksi IV, di ruas jalan Soker, sebagian rambu sementara yang dipasang tidak mengarah kepada pemudik. Pemasangannya justru melawan arah dari pemudik. Dia memaklumi jika pemasangan itu tidak diperuntukkan arus mudik.



’’Karena sebagian yang kami pasang untuk arus balik nanti. Jadi, sebagian memang ada yang berlawanan,’’ terangnya.



Tak sampai di situ, setelah melewati Sungai Brantas, pemudik harus bersabar. Sebab, di lokasi itu, jalur yang dilalui kembali ke jalan kabupaten. ’’Jalan tol belum dikerjakan karena masih ada lahan yang belum bebas,’’ ujarnya. (fid/nk/c21/diq)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore