
Ilustrasi
JawaPos.com - Sembilan mahasiswa asal Kabupaten Paser, Kaltim, butuh pertolongan. Jauh-jauh menuntut ilmu hingga ke Negeri Tiongkok, justru hasil yang tak nyaman dirasakan. Padahal mereka sudah lulus dari Nanjing Institute of Railway Technology, Tiongkok. Nahasnya, saat ini mereka belum bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di Bumi Daya Taka, karena tak bisa pulang akibat tidak ada biaya.
Seperti dikatakan Jumrani, salah satu orang tua dari mahasiswa tersebut. Dari pernyataan pejabat Pemkab Paser yang menyebutkan orang tua tidak mengusulkan tambahan beasiswa, sebagai imbas membengkaknya biaya hidup dan kuliah di Tiongkok, dibantah Jumrani. Menurutnya sejak 2016, para mahasiswa telah menyampaikan permohonan untuk tambahan beasiswa di APBD 2017.
“Kami orang tua mahasiswa sudah tiga kali menyampaikan permohonan bantuan dana, jauh sebelum mereka diwisuda,” terangnya, kemarin (20/6).
Dia mengaku tidak tahu lagi harus mengadu dan menghadap ke mana. Dia telah berkali-kali meminta bantuan ke Bagian Kesra Setkab Paser dan merasa malu karena layaknya seorang pengemis. Dari informasi yang dia dapat dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), beasiswa bisa saja dicairkan bagian kesra, asal mengubah surat perintah kerja (SPK).
“Sedangkan SPK mahasiswa kampus lain saja bisa diubah, kenapa ini mahasiswa yang jauh di Tiongkok tidak bisa dibantu atau tidak sempat,” keluhnya.
Sebelumnya, Kabag Bina Kesra Setkab Paser Nonding menuturkan, sejatinya pemerintah sudah tidak memiliki kewajiban menyalurkan dana untuk mahasiswa di Tiongkok. Pasalnya, Rp 78 juta yang telah digelontorkan sejak awal kuliah, sudah termasuk biaya kepulangan. Namun di tengah perjalanan, biaya tersebut dianggap kurang karena tidak sesuai kebutuhan selama kuliah.
Saat itu, dia mengatakan, jika pemerintah kembali mengeluarkan anggaran, maka akan menjadi temuan karena di luar perjanjian awal. Namun, setelah berkoordinasi dengan sekretaris Kabupaten (sekkab) Paser, akhirnya disetujui pemkab membiayai kepulangan sembilan mahasiswa tersebut. Tetapi hanya terhitung dari Jakarta ke Tana Paser. Sedangkan biaya dari Tiongkok ke Jakarta belum bisa diakomodasi.
Nonding menuturkan, SPK beasiswa tidak bisa diubah, karena status mereka telah lulus. Terkecuali kasusnya sebelum mereka diwisuda. “Kalau kami bantu lagi, nanti jadi temuan dan siapa yang bertangggung jawab,” sebutnya.
Diketahui, sembilan mahasiswa Paser mendapat beasiswa dari kerja sama antara pemkab dengan Southeast Asian Ministers of Education Organization (SEAMEO) Regional Open Learning Centre (SEAMOLEC), untuk menempuh pendidikan di Nanjing Institute of Railway Technology selama tiga tahun. Sembilan mahasiswa tersebut kini sudah lulus dan diwisuda, namun belum bisa kembali karena terkendala dana. (*/jib/ica/k9/fab/JPG)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
