
PENASARAN: Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budihardja (tengah) bersama anggota satreskrim dan dinas kesehatan memeriksa mesin pembuatan kerupuk.
JawaPos.com- Tim Satgas Pangan Polres Ngawi menggerebek pabrik kerupuk di Karangasri, Ngawi, Jumat (9/6). Pabrik kerupuk terbesar itu diduga menggunakan boraks sebagai campuran untuk memproduksi rambak. Akibatnya, Rukmana, 59, bos pabrik tersebut, ditetapkan sebagai tersangka.
”Tim satgas pangan menemukan penggunaan bahan tambahan pangan yang dilarang (boraks, Red). Itu dibuktikan dengan hasil laboratorium,” terang Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budihardja.
Saat menggerebek pabrik kerupuk tersebut, polisi menemukan bukti penggunaan boraks. ”Kami menemukan bungkus boraks bekas pakai dan boraks. Barang bukti itu selanjutnya kami sita dan bawa ke mako (Mapolres Ngawi, Red) ” terang Nyoman.
Polisi dengan dua melati di pundak tersebut menyatakan, penambahan bahan berbahaya pada makanan itu diduga dilakukan sejak dua tahun terakhir. Boraks tersebut ditambahkan agar kerupuk lebih kenyal dan tahan lama.
”Berdasar pengakuan sementara pemilik pabrik, pencampuran bahan makanan berbahaya itu sudah dua tahun. Agar lebih tahan lama,” terangnya sambil menyebut pabrik kerupuk tersebut beroperasi sejak 1970-an.
Atas perbuatannya, Bos pabrik dijerat dengan pasal 136 huruf b UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan atau pasal 62 ayat 1 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman lima tahun penjara atau denda maksimal Rp 10 miliar.
Meski sudah menahan Rukmana, aktivitas produksi di pabrik kerupuk tersebut tetap berjalan. ”Di sini kan produksi berbagai jenis kerupuk. Produksi yang pakai bahan terlarang dihentikan. Cuma yang tidak pakai tetap dilanjutkan,” kata Nyoman.
Bukan hanya penggunaan boraks, tempat produksi di pabrik kerupuk itu terlihat tidak higienis. Beberapa pekerja terlihat bertelanjang dada dan mayoritas tidak mengenakan sarung tangan.
Kondisi ruang produksi juga terkesan tidak pernah dibersihkan. Hingga membuat Kapolres geleng-geleng kepala. ”Ya, dilihat sendiri kan, kondisinya,” ujarnya.
Berdasar informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ngawi, selama ini pabrik kerupuk tersebut menyuplai wilayah Ngawi dan sekitarnya. Mayoritas penjual kerupuk keliling mengambil dagangannya ke lokasi itu mulai siang hingga sore. Sebagian lagi dilempar ke pasar tradisional di Ngawi. (odi/pra/c24/end)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
