
Wilayah perbukitan Prambanan yang hampir setiap tahunnya mengalami bencana longsor
JawaPos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman terus melakukan berbagai upaya agar ancaman longsor bisa meminimalkan kerugian korban jiwa. Berbagai teknologi pun digunakan dan diintensifkan pemantauannya saat tingginya potensi itu.
Heru Saptono, Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Sleman, mengatakan teknologi yang dikembangkannya berupa Early Warning System (EWS) tanah longsor. Alat ini mendeteksi tiga hal yang menjadi triger tanah longsor. "Yang pertama adalah hujan dan yang kedua, yaitu pergerakan tanah," katanya, Selasa (10/10).
Untuk memantau curah hujan, pada EWS dipasang alat pengukur curah hujan atau rain gauge. Intensitasnya yang terdata ditransformasikan ke BPBD dan Pusdalops Sleman.
"Data ini kemudian dianalisis untuk disandingkan pada data historis. Untuk melihat tingkat curah hujan yang bisa memicu terjadinya longsor," katanya.
Selain EWS juga digunakan teknologi berupa extensiometer. Alat ini digunakan untuk memonitor adanya pergerakan tanah. "Sehingga bisa memantau seberapa lebar pergerakan yang bisa menjadi pemicu terjadinya longsor dibandingkan data historical terjadinya longsor sebelumnya," ucapnya.
Ketiga dipasangi sirine yang secara otomatis akan berbunyi untuk menginformasikannya sesaat sebelum longsor terjadi. "Sehingga bisa digunakan untuk melindungi masyarakat dari ancaman tanah longsor," katanya.
Lanjut dia, untuk wilayahnya yang mempunyai potensi ancaman longsor terdapat lebih dari seratus titik. Namun prioritas penanganannya ditujukan pada lokasi yang berpeluang terjadi di pemukiman penduduk. "Terutama di Prambanan," tuturnya.
Ditambahkan Heru, dalam hal mitigasi bencana, dilakukan perekatan tebing yang telah merekah dengan dipasang pondasi batu. "Dengan dibuat trap-trap dan diberi sulingan bambu pada bentang pondasi," katanya.
Trap-trap tersebut dipasang di tiga titik lokasi. Yaitu di Desa Gayamharjo, Wukirsari, dan Sumberharjo, Kecamatan Prambanan.
Kemudian, ada juga chipping atau memotong batu yang hampir jatuh menjadi bagian-bagian kecil. Inisl sudah dilakukan di Madurejo, Bokoharjo, dan Wukirharjo. "Selain di Prambanan, wilayah yang rawan longsoran di bantaran-bantaran sungai," katanya.
Sementara, Parwoto, Koordinator relawan dari Bandungbondowoso Prambanan, mengatakan hampir setiap tahun memang di wilayahnya terjadi longsoran. "Terakhir, minggu yang lalu di Tebing Cengklik yang mengakibatkan satu warga menjadi korban," ucapnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
