Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 10 Oktober 2017 | 23.21 WIB

Deteksi Longsor, BPBD Sleman Gunakan Teknologi Ini

Wilayah perbukitan Prambanan yang hampir setiap tahunnya mengalami bencana longsor - Image

Wilayah perbukitan Prambanan yang hampir setiap tahunnya mengalami bencana longsor

JawaPos.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman terus melakukan berbagai upaya agar ancaman longsor bisa meminimalkan kerugian korban jiwa. Berbagai teknologi pun digunakan dan diintensifkan pemantauannya saat tingginya potensi itu.


Heru Saptono, Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Sleman, mengatakan teknologi yang dikembangkannya berupa Early Warning System (EWS) tanah longsor. Alat ini mendeteksi tiga hal yang menjadi triger tanah longsor. "Yang pertama adalah hujan dan yang kedua, yaitu pergerakan tanah," katanya, Selasa (10/10).


Untuk memantau curah hujan, pada EWS dipasang alat pengukur curah hujan atau rain gauge. Intensitasnya yang terdata ditransformasikan ke BPBD dan Pusdalops Sleman.


"Data ini kemudian dianalisis untuk disandingkan pada data historis. Untuk melihat tingkat curah hujan yang bisa memicu terjadinya longsor," katanya.


Selain EWS juga digunakan teknologi berupa extensiometer. Alat ini digunakan untuk memonitor adanya pergerakan tanah. "Sehingga bisa memantau seberapa lebar pergerakan yang bisa menjadi pemicu terjadinya longsor dibandingkan data historical terjadinya longsor sebelumnya," ucapnya.


Ketiga dipasangi sirine yang secara otomatis akan berbunyi untuk menginformasikannya sesaat sebelum longsor terjadi. "Sehingga bisa digunakan untuk melindungi masyarakat dari ancaman tanah longsor," katanya.


Lanjut dia, untuk wilayahnya yang mempunyai potensi ancaman longsor terdapat lebih dari seratus titik. Namun prioritas penanganannya ditujukan pada lokasi yang berpeluang terjadi di pemukiman penduduk. "Terutama di Prambanan," tuturnya.


Ditambahkan Heru, dalam hal mitigasi bencana, dilakukan perekatan tebing yang telah merekah dengan dipasang pondasi batu. "Dengan dibuat trap-trap dan diberi sulingan bambu pada bentang pondasi," katanya.


Trap-trap tersebut dipasang di tiga titik lokasi. Yaitu di Desa Gayamharjo, Wukirsari, dan Sumberharjo, Kecamatan Prambanan.


Kemudian, ada juga chipping atau memotong batu yang hampir jatuh menjadi bagian-bagian kecil. Inisl sudah dilakukan di Madurejo, Bokoharjo, dan Wukirharjo. "Selain di Prambanan, wilayah yang rawan longsoran di bantaran-bantaran sungai," katanya.


Sementara, Parwoto, Koordinator relawan dari Bandungbondowoso Prambanan, mengatakan hampir setiap tahun memang di wilayahnya terjadi longsoran. "Terakhir, minggu yang lalu di Tebing Cengklik yang mengakibatkan satu warga menjadi korban," ucapnya.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore