
Saat bantuan disalurkan ke Desa Serba dan Desa Pematang Durian, Aceh Tamiang. (Istimewa)
Bantuan yang diterima warga sebagian besar berupa produk praktis seperti mi instan dan susu kental manis, yang dinilai tidak sesuai untuk kebutuhan balita.
Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira, menyampaikan bahwa hingga kini belum banyak bantuan yang secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak. Padahal, kebutuhan gizi balita berbeda dengan orang dewasa dan memerlukan perhatian khusus dalam masa pemulihan pascabencana.
“Bantuan yang ada saat ini kebanyakan ditujukan untuk orang dewasa, bukan untuk anak-anak,” kata Satria dalam sesi buka bersama dengan media di Jakarta, Kamis (5/3).
Menurutnya, temuan tersebut menjadi evaluasi penting dalam penanganan pascabencana. Ia mendorong para pemangku kepentingan dan relawan agar mulai mengarahkan bantuan pada kebutuhan yang lebih spesifik, termasuk memastikan ketersediaan pangan yang sesuai untuk tumbuh kembang anak.
“Harapannya ke depan bantuan dari siapapun baik dari pemerintah atau masyarakat mulai memperhatikan anak,” ucap Satria.
Selain mendistribusikan bantuan logistik, YAICI juga menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak terdampak. Kegiatan tersebut dikemas melalui permainan dan aktivitas interaktif guna membantu anak mengurangi rasa takut dan kecemasan pascabencana.
“Kami juga buat kegiatan untuk trauma healing pada anak-anak, karena ini penting. Psikologis mereka juga perlu diperhatikan,” tutur Satria.
Di sisi lain, Penyuluh Kesehatan Sekerak Aceh Tamiang, Ersyad, mengingatkan bahwa konsumsi makanan instan dalam jangka panjang dapat memicu masalah kesehatan, terutama bagi balita yang membutuhkan asupan nutrisi seimbang untuk mendukung pertumbuhan.
Ia menyoroti konsumsi susu kental manis yang berisiko mengganggu perkembangan anak dan berpotensi menyebabkan stunting. Menurutnya, rasa kenyang semu dari kental manis dapat membuat anak kehilangan nafsu makan terhadap makanan bergizi lainnya.
“Jangka pendeknya bisa ke stunting. Karena konsumsi susu kental manis bisa menghasilkan efek kenyang yang palsu. Anak-anak nantinya bakal mengutamakan kental manis, ketimbang makan,” kata Ersyad.
Lebih lanjut, Ersyad menyebut kebutuhan mendesak lainnya adalah ketersediaan obat-obatan dan peralatan medis. Pasca banjir, berbagai penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mulai bermunculan akibat debu dari lumpur yang mengering. Sementara itu, banyak fasilitas dan alat kesehatan setempat mengalami kerusakan.
“Kita butuh obat dan alat-alat medis. Soalnya alat medis kita sudah rusak semua. Akhirnya kita tidak maksimal memberikan pelayanan,” ungkap Ersyad.
