Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 Juni 2025 | 18.20 WIB

Tuai Pro dan Kontra, Kegiatan Anak di Barak Militer Jawa Barat Ternyata Tak Sebatas Baris Berbaris, Salat Bahkan Lima Waktu

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi barak militer di Bandung. (Instagram @dedimulyadi71) - Image

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi barak militer di Bandung. (Instagram @dedimulyadi71)

JawaPos.com - Kebijakan baru dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait pendidikan karakter di barak militer atau biasa disebut Dodik Bela Negara memang menuai pro dan kontra.

Kebijakan ini pun tak lepas dari sorotan berbagai kalangan. Dalam kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, salah satu ibu asuh sekaligus ahli grafologi di Dodik Bela Negara, Gusti Aju Dewi, mengungkapkan kegiatan yang dilakukan anak-anak pada program ini.

Pada gelombang pertama, terhitung 273 anak yang mengikuti pendidikan karakter di Jawa Barat ini. 

Anak-anak yang mengikuti program tersebut tetap belajar seperti biasa seperti sekolah pada umumnya, tak hanya semata-mata melakukan latihan baris-berbaris. Bahkan, anak-anak tersebut diberikan jadwal yang teratur dan diberi arahan tentang kegiatan yang harus dilakukan.

“Yang dilakukan di situ ada ibadah, ada motivasi. Tidak seperti yang diasumsikan banyak orang,” kata Gusti Aju, ahli grafologi.

Pada hari pertama sendiri terdapat sejumlah kegiatan seperti keberangkatan, perjalanan, administrasi, registrasi, pembagian perlengkapan, medical check-up, pangkas rambut, pembagian barang, apel, dan ibadah.

Terdapat pula senam, makan, apel lagi, bimbingan dan pengasuhan, istirahat pagi, istirahat siang, dan isoma.

“Salatnya lima waktu, Pak. Setiap dua jam ada waktu istirahat, Pak. Kemudian ada bimbingan pengasuhan, lalu baris-berbaris,” jelas dia.

Bahkan, kegiatan baris berbaris termasuk pada kegiatan minor, bukan kegiatan utama. Sebelum dilanjutkan ke materi formal.

Setelahnya, anak-anak mengikuti sesi psikologi. Mereka juga diberi pemahaman mengenai kerukunan antarumat beragama, pengenalan Undang-Undang Dasar 1945, dan materi mengenai NKRI.

Sebagai ahli grafologi, Gusti Aju mengaku pernah memberikan materi tentang perbedaan antara bangsa dan negara.

Dia menjelaskan bahwa pemahaman tersebut diberikan melalui analogi yang mudah dipahami, yaitu negara sebagai rumah dan bangsa sebagai penghuninya. Menariknya, cerita Gusti Aju, penyampaian materi membuat beberapa anak tampak berkaca-kaca.

“Saya tersadar, saya menggunakan istilah rumah dan keluarga. Supaya lebih mudah dipahami, saya sederhanakan: negara itu rumahnya, bangsa itu keluarganya yang menghuni rumah tersebut. Dari situ muncul trigger-nya, rumah dan keluarga. Padahal konteks saya adalah: sesama bangsa kita harus bersatu,” pungkasnya.

Editor: Bintang Pradewo
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore