
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat mengunjungi barak militer di Bandung. (Instagram @dedimulyadi71)
JawaPos.com - Kebijakan baru dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait pendidikan karakter di barak militer atau biasa disebut Dodik Bela Negara memang menuai pro dan kontra.
Kebijakan ini pun tak lepas dari sorotan berbagai kalangan. Dalam kanal YouTube Helmy Yahya Bicara, salah satu ibu asuh sekaligus ahli grafologi di Dodik Bela Negara, Gusti Aju Dewi, mengungkapkan kegiatan yang dilakukan anak-anak pada program ini.
Pada gelombang pertama, terhitung 273 anak yang mengikuti pendidikan karakter di Jawa Barat ini.
Anak-anak yang mengikuti program tersebut tetap belajar seperti biasa seperti sekolah pada umumnya, tak hanya semata-mata melakukan latihan baris-berbaris. Bahkan, anak-anak tersebut diberikan jadwal yang teratur dan diberi arahan tentang kegiatan yang harus dilakukan.
“Yang dilakukan di situ ada ibadah, ada motivasi. Tidak seperti yang diasumsikan banyak orang,” kata Gusti Aju, ahli grafologi.
Pada hari pertama sendiri terdapat sejumlah kegiatan seperti keberangkatan, perjalanan, administrasi, registrasi, pembagian perlengkapan, medical check-up, pangkas rambut, pembagian barang, apel, dan ibadah.
Terdapat pula senam, makan, apel lagi, bimbingan dan pengasuhan, istirahat pagi, istirahat siang, dan isoma.
“Salatnya lima waktu, Pak. Setiap dua jam ada waktu istirahat, Pak. Kemudian ada bimbingan pengasuhan, lalu baris-berbaris,” jelas dia.
Bahkan, kegiatan baris berbaris termasuk pada kegiatan minor, bukan kegiatan utama. Sebelum dilanjutkan ke materi formal.
Setelahnya, anak-anak mengikuti sesi psikologi. Mereka juga diberi pemahaman mengenai kerukunan antarumat beragama, pengenalan Undang-Undang Dasar 1945, dan materi mengenai NKRI.
Sebagai ahli grafologi, Gusti Aju mengaku pernah memberikan materi tentang perbedaan antara bangsa dan negara.
Dia menjelaskan bahwa pemahaman tersebut diberikan melalui analogi yang mudah dipahami, yaitu negara sebagai rumah dan bangsa sebagai penghuninya. Menariknya, cerita Gusti Aju, penyampaian materi membuat beberapa anak tampak berkaca-kaca.
“Saya tersadar, saya menggunakan istilah rumah dan keluarga. Supaya lebih mudah dipahami, saya sederhanakan: negara itu rumahnya, bangsa itu keluarganya yang menghuni rumah tersebut. Dari situ muncul trigger-nya, rumah dan keluarga. Padahal konteks saya adalah: sesama bangsa kita harus bersatu,” pungkasnya.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
