Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 3 Januari 2024 | 15.38 WIB

Pengakuan Ayah di Semarang yang Nekat Bunuh Anak, Sutikno: Saya Mau Lumpuhkan Dia, Saya Siap Kasih Makan

Ilustrasi pembunuhan (Antara). - Image

Ilustrasi pembunuhan (Antara).

JawaPos.Com - Ibarat peribahasa nasi sudah menjadi bubur, cekcok antara Sutikno Miji dan anaknya kini telah berujung sesal.

Niat hati ingin melindungi anak bungsu dan istrinya, sosok ayah berusia 60 tahun tersebut justru menghabisi nyawa sang putra.

Guntur Surono, 22, menghebuskan napas terakhir setelah pulang kerumah dalam keadaan mabuk dan mengancam ibu dan adiknya akan dibunuh.

Sutikno yang mendengar ucapan putranya, merasa sudah tidak bisa menahan emosi terhadap Guntur yang kerap membuat onar di keluarga.

Dilansir Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (3/1), Sutikno yang kini sudah menyerahkan diri pada pihak berwajib mengungkap pengakuannya.

"Dia (korban) sejak SMP sudah mulai mengancam keluarga. Bikin onar,"ungkap pelaku Sutikno Wiji, saat dihadirkan gelar perkara di Kapolrestabes Semarang, Selasa (2/1/2024).

"Sampai saya mengungsi di tempat mertua, jaraknya kurang lebih 16 Kilometer. Menghindari supaya tidak terjadi keributan," lanjutnya.

Diketahui, peristiwa tragis itu terjadi pada Senin (1/1/2024) sekitar pukul 15.00, dimana korban pulang ke rumah dalam kondisi mabuk.

"Kemarin itu dia pulang, mabuk, tiga hari ngepil, minum (minuman keras), cekcok sama adiknya di dapur. Dia itu tanya apa, saya tidak tau. Itu di dapur makan. Itu adiknya dihantam piring. Yang tau persis ibunya," katanya.

"Sebelumnya saya juga sudah dengar, meraco raco (ngomel). Itu pas saya mau bikin sambal. Istri saya teriak teriak. Pak iki anake do tukaran. Itu adiknya mau dibunuh. Nanti habis membunuh adiknya, terus saya. Pak ditulungi Pak," sambungnya menirukan ucapan isterinya, perempuan berinisial DU.

Mendengar hal tersebut, Sutikno bergegas melakukan pembelaan isterinya dan anak bungsunya.

Namun, korban malah melakukan perlawanan dan akhirnya terjadi perkelahian dengan bapaknya.

Awalnya, korban membawa pentungan, dan bapaknya tangan kosong.

"Itu dia bawa kentes (pentungan), saya rebut. Terus dia ambil pisau dimeja, mau ditusukan di adiknya, terus saya tangkis, sama saya pukul. Terus pisaunya lepas. Terus adiknya saya suruh pergi. Ini biar saya, kamu jangan ikut-ikut," katanya.

Setelah dihantam kayu, Guntur terkapar dan kepala kepalanya kembali dihantam menggunakan batu hebel dan seketika tewas di lantai di dapur rumah.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore