JawaPos.com - Sebuah video tengah viral di kalangan netizen, dimana dalam rekaman tersebut terlihat seorang siswa membawa bekal makan dengan lauk ulat. Lokasinya diketahui di wilayah Desa Meduri, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro.
Seperti dikutip Fajar dari video reel akun Instagram @sunshineesid, seorang siswa SD di Kecamatan Marhomulyo Kabupaten Bojonegoro, menunjukkan bekal makan kepada guru yang juga merekamnya.
Perhatian guru tersebut langsung tertarik pada bekal itu karena isinya nasi dengan lauk ulat.
"Uler iki, uler .Jan, jan, 2023 kok isih lawuh uler (Ulat..ini ulat. Sudah 2023 kok masih lauk ulat)," kata guru tersebut.
"Ngono kui ngko biduran pora le? (nanti apa nggak gatal, nak?)," tanyanya lagi.
Namun siswa tersebut menjawab dengan polos sambil tersenyum.
"Engga, tadi malam saya makan," jawabnya dengan polos.
Menanggapi video viral yang beredar tersebut, Kepala Desa (Kades) Meduri, Kecamatan Margomulyo, Hariyono menyatakan bahwa hal itu tidak mengherankan di wilayahnya. Karena masih banyak penduduk di wilayah setempat yang makan ulat.
‘’Maklum orang tengah hutan. Kadang ulat mahoni hingga kelapa kami konsumsi. Ulat walikukun dari sejenis pohon kecil, ulat kelapa, ulat pisang, hingga kepompong ulat jati juga biasanya dikonsumsi. Bisa dimasak dengan diberi bumbu seperti masakan lain dan digoreng. Kalau dibuat sayur belum pernah,” ujar Hariyono seperti dikutip dari Radar Bojonegoro.
Ia melanjutkan, ulat yang langsung dimasak yaitu jenis walikukun. Namun untuk mengkonsumsi ulat jati, harus menunggu menjadi kepompong.
"Ulat-ulat tersebut memiliki cita rasa gurih. Namjn, konsumsi ulat tidak dilakukan setiap hari atau tiap minggu. Melainkan di waktu tertentu seperti awal musim hujan," imbuhnya.
Selain dikonsumsi sendiri, Hariyono juga mengungkapkan bahwa ulat yang dimakan tersebut juga dijual.
"Harganya lumayan. Yakni 200 cc atau satu gelas air mineral dijual seharga Rp 7.000 per gelas. Dan Rp 30 ribu per kilogram," ujarnya.
Hariyono juga menduga, bekal lauk ulat yang videonya beredar tersebut kemungkinan adalah ulat pohon turi.
"Terkait video yang beredar itu kalau tidak salah ulat pohon gude atau turi, namanya ulat gendon," pungkasnya.
Lantas, bagaimana kandungan gizi dari ulat yang bisa dikonsumsi? Dikutip dari laman Jurusan Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang, salah satu contoh ulat yang dapat dimakan dan bergizi antara lain ulat sagu.
Dalam 100 gram ulat sagu yang dikeringkan, terkandung 53 gram protein dan 15 gram lemak. Uniknya, kandungan protein dan lemak yang dimiliki ulat sagu lebih tinggi dibandingkan pada ikan bandeng, ikan cakalang, ikan kembung, bahkan daging sapi, dan daging ayam.
Selain itu, ulat sagu juga memiliki kandungan mineral, seperti kalsium, zat besi, dan zinc.
Ada juga ulat hongkong. Dilansir dari laman Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, kandungan protein pada larva ulat hongkong cukup tinggi yaitu 47,44% dengan kadar lemak 21,84%.
Ulat ini juga mengandung asam amino berupa taurin sebesar 17,53% yang sangat dibutuhkan pada masa tumbuh kembang anak dan berperan penting dalam proses pematangan sel otak.