Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Oktober 2020 | 18.07 WIB

Aktivis HAM Menduga Ada yang Tidak Menghendaki Warga Banti Kembali

Pendiri Kantor Hukum dan HAM Lokataru Foundation Haris Azhar. Evarianus Supar/Antara - Image

Pendiri Kantor Hukum dan HAM Lokataru Foundation Haris Azhar. Evarianus Supar/Antara

JawaPos.com–Aktivis HAM yang juga pendiri kantor hukum dan HAM Lokataru Foundation Haris Azhar menduga ada pihak-pihak tertentu yang tidak menghendaki ribuan warga Kampung Banti dan Opitawak, Distrik Tembagapura, kembali ke kampung mereka. Sehingga, sampai sekarang masih terkatung-katung di Timika.

”Saya mencurigai ada siasat jahat untuk membiarkan masyarakat tidak bisa kembali ke kampungnya, padahal mereka turun dari Tembagapura ke Timika beberapa bulan lalu itu atas kerelaan mereka sendiri bukan karena diusir,” kata Haris Azhar seperti dilansir dari Antara di Timika, Selasa (27/10).

Haris Azhar berjanji memperjuangkan pengembalian sekitar 1.800 jiwa warga Banti dan Opitawak yang diungsikan sementara ke Timika sejak awal Maret. Sebab, situasi di kampung mereka tidak aman setelah Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terlibat konflik bersenjata dengan aparat TNI dan Polri.

”Kami akan proaktif datang ke pejabat dan instansi terkait untuk minta dibuka jalan karena masyarakat ini mau balik ke kampungnya. Misalnya tidak dibuka jalan lalu tidak ada bus yang mau mengangkut, yah masyarakat ini akan jalan kaki dari Timika sampai di Banti dan Opitawak,” ujar Haris.

Pada Senin (26/10), Haris Azhar menemui warga Banti dan Opitawak yang bermukim di keluarga mereka di sejumlah tempat di Timika seperti SP2, Kwamki Baru, Mile 32, dan lainnya. Haris mendengarkan secara langsung aspirasi warga Tembagapura yang menginginkan segera kembali ke kampung halaman mereka agar bisa merayakan Natal di kampungnya pada Desember.

Haris mengatakan, selama tujuh bulan terakhir warga Banti dan Opitawak dibiarkan keleleran di Timika tanpa ada pihak yang memperhatikan nasib mereka. ”Ini kan sudah tujuh bulan. Mestinya TNI-Polri dan pemerintah membuat tim untuk mengurus nasib mereka. Seharusnya negara malu ada 1.800 orang punya inisiatif mengamankan diri, jadi bukan aparat keamanan yang mengamankan mereka. Sebetulnya mereka ini bukan pengungsi, tapi mengevakuasi diri,” papar Haris.

Warga Banti dan Opitawak rela meninggalkan rumah dan harta benda mereka di kampung pada awal Maret karena situasi keamanan yang terganggu akibat kehadiran KKB.

”Masyarakat memberikan waktu supaya negara masuk mengamankan kampung mereka, nanti setelah aman masyarakat balik lagi. Kan tujuan pembentukan TNI dan Polri untuk itu. Tapi kalau TNI dan Polri tidak mengamankan warga, lalu dia mau mengamankan siapa,” kata Haris.

Dia menuding ada pihak-pihak tertentu yang sangat menikmati situasi ribuan warga Banti, Opitawak, dan Kimbeli tidak berada di kampung halaman mereka yang sangat dekat jaraknya dengan kota pertambangan Freeport di Tembagapura itu.

”Ini ada siasat jahat apa? Kalau memang tidak ada siasat jahat, mestinya mereka segera dijemput untuk balik ke kampung. Kalau mereka di Timika terus tentu jadi masalah. Banyak warga yang sakit kena malaria, sudah delapan orang meninggal, banyak yang stres karena tidak punya uang untuk membayar sewa rumah kontrakan. Padahal kalau mereka ada di kampungnya, mereka sehat-sehat semua,” terang Haris.

Saksikan video menarik berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=lITLnCGq0jY&ab_channel=jawapostvofficial

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore