Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Maret 2019 | 00.25 WIB

Suara USU Dibubarkan Buntut Cerpen LGBT, Rektor Dianggap Otoriter

Massa mahasiswa saat memasang poster penolakan SK pencabutan pengurus Suara USU. - Image

Massa mahasiswa saat memasang poster penolakan SK pencabutan pengurus Suara USU.

JawaPos.com - Seratusan mahasiswa menggelar unjuk rasa di Jalan Universitas, Kampus USU (Pintu 1), Kamis (28/3). Mereka menamai dirinya sebagai Solidaritas Mahasiswa Bersuara (Somber). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes terhadap keputusan rektor yang membubarkan para pengurus Pers Mahasiswa Suara USU.


Rektor USU Runtung Sitepu disebut diktator karena melakukan pembubaran yang dianggap sepihak. Unjuk rasa sempat diwarnai kericuhan.


Massa yang memaksa masuk ke sekretariat Suara USU berhadapan dengan satpam. Namun beruntung kericuhan bisa diredam. Kejadian ini, berawal saat pihak keamanan kampus meminta mantan pengurus mengeluarkan barang-barang kecuali aset dari dalam sekretariat.


Yael Stefani Sinaga dan mantan pengurus lainnya pun pasrah. Mereka mengeluarkan barang-barang itu dari dalam ruangan. Diluar gerbang sekretariat, massa Somber ingin masuk. Namun dihadang oleh keamanan kampus.


Massa Somber sempat terlibat adu mulut dengan keamanan yang bersikukuh tak mengizinkan mereka masuk. Saat itu juga, sejumlah massa nekat melompati pagar. Yang lainnya juga berupaya masuk dengan memaksa membuka pagar.


Barang barang yang sudah dikeluarkan, dimasukkan kembali ke dalam Sekretariat Suara USU. Itu dilakukan oleh massa mahasiswa dan mantan tim redaksi Suara USU yang diberhentikan rektor.


Mantan Pemimpin Umum Suara USU, Yael Stefani Sinaga, tidak mengetahui secara pasti mengapa pihak rektorat meminta barang barang yang berada di gedung Suara USU dikosongkan.


"Tidak tahu, pokoknya mereka minta dikosongkan semua. Tetapi barang (milik) USU tetap ditinggal di sini," ujar Yael


Koordinator Aksi, Felix Cristiano mengatakan, aksi solidaritas itu dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap sujektifitas rektorat yang membubarkan kepengurusan.


Bahkan pembubaran itu dianggap sebagai bentuk pembungkaman. Dalam aksinya, massa membentangkan poster penolakan. Sebuah spanduk penolakan juga dipasang di depan sekretariat.


Sejumlah poster halaman depan Suara USU saat masih dalam edisi cetak juga di pajang."Rektor saat ini sudah mengambil keputusan sepihak. Kami menolak pesekusi terhadap ide-ide dan kreatifitas mahasiswa," ujar Felix


Somber katanya, akan terus berunjuk rasa hingga SK pembubaran itu dicabut oleh Rektor USU.


Terpisah, Wakil Rektor 1 USU, Rosmayati tak sepakat jika keputusan rektor dianggap otoriter. Keputusan itu, diambil karena pihak rektorat menganggap harus ada perbaikan di tubuh Suara USU.


"Rektor menyarankan anak-anak Suara USU belajar lagi ke kampus. Tekuni bidang akademisnya," ujar Rosmayati yang ditemui di kantornya.


Pihaknya juga membantah, langkah pembubaran dianggap tindakan breidel terhadap Suara USU. Sehingga mereka juga akan merekrut pengurus baru.

Editor: Budi Warsito
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore