
Suasana di Pertapaan Karmel
Gua Maria terdapat di kompleks indah itu. Ada gua dengan patung Bunda Maria juga batu-batu bertuliskan firman Tuhan.
Suasananya yang nyaman, asri, tenang dan damai, membuat JawaPos.com lupa waktu. Hampir-hampir melalaikan janji berbincang dengan Suster Petra usai ibadah. Tak terasa, 1,5 jam berlalu begitu saja. Waktu seolah cepat bergerak saat menghabiskannya di Gua Maria.
Di biara ini, terdapat wisma-wisma dengan kapasitas 700 orang. Memang ada biaya untuk mendapatkan fasilitas inap dan makan di wisma ini dengan harga murah. Namun, ternyata bagi yang tidak mampu juga bisa mendapatkannya gratis.
Suster Petra bercerita, pertapaan ini didirikan tahun 1979 oleh Romo Yohanes Indrakusuma CSE. Alasannya, karena Romo ingin menyepi, bertapa dan fokus ibadah kepada Tuhan.
Tiga tahun kemudian, datang beberapa putri ke pertapaan ini. Mereka meminta kepada Romo Yohanes agar dibimbing dalam berdoa. Tahun itu juga terbentuk Putri Karmel.
Tiga orang suster senior yang 'babat alas' di Pertapaan Karmel adalah Suster Maria, Suster Gustini dan Suster Marietha.
Pada awalnya, tempat ini berfungsi sebagai tempat pembinaan ibadah dan rohani. Mendidik dan membimbing umat, calon suster atau suster untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan pengabdian.
"Ya sampai sekarang memang di sini adalah tempat pembinaan agama dan ibadah. Di sini biara pusat. Ada sekitar 50 suster dan calon suster di sini," kata perempuan yang sudah tinggal di sana sejak 1994.
Perempuan yang pernah ditugaskan ke Jawa Barat dan beberapa tempat lainnya ini menjelaskan, namun pada perkembangannya, biara ini berkembang menjadi tempat ibadah masyarakat umum. Terutama bagi umat Katholik.
Misalnya saja ada paket ibadah Natal, Paskah, atau Tahun Baru. Paket ini diikuti oleh keluarga-keluarga. Di Pertapaan Karmel, mereka tidak hanya dibimbing ibadah yang benar.
Namun juga diadakan rekonsiliasi dengan keluarga. Sehingga kembali muncul kekompakan dan rasa cinta di antara sesama anggota.
"Ada pengelompokan materi dari yang dewasa, remaja dan anak-anak. Kami juga cari waktu keluarga agar bisa berkumpul. Sehingga tidak hanya beribadah, namun juga kembali kompak," kata dia.
Retret dan pendampingan ibadah pribadi juga dilayani oleh para suster di biara ini. Bahkan, tidak hanya untuk umat Katholik. Pemeluk agama selain Katholik juga bisa memanfaatkannya.
"Ingin bertapa, mencari ketenangan di sini, bisa. Walau bukan umat ya, agama lainnya juga boleh. Kami terbuka untuk umum," katanya.
Bahkan, saat Pertapaan Karmel menggelar Doa Penyembuhan, peserta yang datang dari beragam kalangan. Tidak hanya umat Katholik, pemeluk agama selain Katholik juga ikut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
