
Photo
JawaPos.com – Kiprah penyair, penulis, dan perupa Indonesia Goenawan Mohamad (GM) mendapatkan apresiasi dari Japan Foundation. Bersama sutradara Robert Lepage (Kanada) dan Korean Japanese Association, GM akan menerima anugerah Japan Foundation Awards 2022 pada 19 Oktober di Tokyo, Jepang.
Japan Foundation Awards tahun ini merupakan edisi ke-49. Beberapa penerima anugerah sebelumnya, antara lain, mantan senator AS James William Fulbright, sutradara Akira Kurosawa, dan sutradara Hayao Miyazaki.
Japan Foundation yang berdiri sejak 1973 setiap tahun memberikan penghargaan kepada individu atau lembaga yang memberikan kontribusi signifikan dalam mempromosikan hubungan dan kerja sama antara Jepang dan negara lain lewat kesenian, kebudayaan, serta pendidikan.
GM akan menjadi orang Indonesia kedua yang dianugerahi Japan Foundation Awards. Sebelumnya, sastrawan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) menerima apresiasi serupa sekitar tiga dekade yang lalu. Sementara untuk lembaga dari Indonesia, Perhimpunan Alumni dari Jepang (Persada) mendapatkan penghargaan serupa pada 2019.
Dalam rilis yang diterima Jawa Pos kemarin (27/9), Japan Foundation menyebutkan tiga penerima anugerah itu merupakan hasil seleksi dari 74 individu/lembaga yang diajukan oleh pakar dan publik secara luas.
Ketika dihubungi via WhatsApp, GM menyatakan, dalam kuliah umum di Jepang bulan depan ada beberapa poin yang ingin disampaikan. ”Saya akan mengemukakan pesimisme setelah perang Ukraina. Masalah yang seharusnya diatasi bersama secara global, terutama perubahan iklim dan pandemi, kini dicampakkan hasrat kekuasaan negara besar dan perlombaan senjata,” ujar penulis novel Surti+Tiga Sawunggaling itu.
Mantan pemimpin redaksi Majalah Tempo itu juga akan menyampaikan perihal kebudayaan sebagai proses dan kritik atas pandangan yang tumbuh sejak imperialisme Eropa. ”Kebudayaan adalah entitas-entitas. Yang disebut ’perbedaan’ dilembagakan hingga ’perbedaan’ berarti ’identitas’ yang beku. Dari pandangan terakhir ini, kini tumbuh politik identitas dan paranoia,” lanjut penulis rubrik Catatan Pinggir di Majalah Tempo tersebut.
Nah, dalam kerja kebudayaan yang dilakoni selama berdekade, GM menyoroti masih banyak sekali hal yang menyedihkan. Di antaranya, perihal elite politik dan sosial Indonesia yang tetap buta huruf dalam menghadapi isu-isu kesenian.
”Para birokrat dan pemodal kita tak menyadari bahwa yang disebut ’kesenian’ itu bukan sekadar pementasan tari dan dagelan. Kesenian itu juga bukan soal keindahan. Kehidupan kesenian mendorong keterbukaan kepada yang berbeda, yang baru, dan bahkan ganjil, yang tak terduga,” terang GM. (dra/sha/c6/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
