Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 3 Februari 2017 | 21.22 WIB

Agus Suyitno, Daur Ulang Sampah Menjadi Miniatur Truk Jumbo

KREATIF: Agus Suyitno membuat miniatur truk dari barang bekas. - Image

KREATIF: Agus Suyitno membuat miniatur truk dari barang bekas.


Limbah kayu ternyata mampu diolah menjadi kerajinan yang bernilai ekonomis. Di tangan Agus Suyitno, 46, warga Dusun Capangan, Desa/Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, potongan-potongan kayu itu disulap menjadi miniatur truk jumbo.



KHUDORI ALIANDU, Mojokerto



CUKUP mudah menemukan kediaman bapak satu anak tersebut. Selain persis di depan rumahnya dilintasi jalan poros berstatus provinsi arah Mojosari–Japanan, Pasuruan, di lingkungan itu, dia merupakan satu-satunya yang menggeluti kerajinan miniatur truk.



Siang itu, di teras rumahnya, pria bertopi tersebut sibuk menyelesaikan hasil kreativitas tangannya. Dengan menggunakan palu kecil, serpihan kayu ditempelkan di kerangka miniatur truk. Bukan hanya itu, di ruang tamu dan depan rumah, puluhan truk yang sudah jadi terlihat berjajar rapi. Truk-truk hasil produksi tersebut sengaja dipajang untuk menarik perhatian pembeli yang melintas. ’’Sudah lama saya membuat miniatur truk ini,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.



Agus –panggilan akrab Agus Suyitno– menceritakan, meski kerajinan tangan yang dikerjakan bukan penopang utama ekonomi keluarga, pundi-pundi yang didapat dari hasil penjualan cukup menggiurkan. ’’Rezeki tidak ke mana. Laku disyukuri, tidak laku ya belum rezeki,’’ tuturnya santun.



Dalam melakoni kerajinan miniatur bak terbuka tersebut, dia dibantu istrinya, Kasening, 38. Terkadang, keduanya harus lembur hingga larut pagi. ’’Sehari kadang dapat dua. Itupun sudah kerja keras. Tapi, ya lebih banyak kami kerjakan malam. Kalau siang saya kerja jadi tukang bangunan,’’ terangnya.



Agus menjelaskan, bahan baku yang digunakan berasal dari daur ulang atau kayu bekas. Dengan kreativitas yang dimiliki, dia terus membuat terobosan miniatur truk yang berdaya saing tinggi dan berkualitas.



Miniatur truk dengan panjang 60 sentimeter dan tinggi 45 sentimeter, kata Agus, mampu menahan beban lebih dari 60 kilogram. ’’Lihat saja, saya naiki tidak rusak dan patah. Bahannya boleh daur ulang, tapi kualitasnya tetap bisa bersaing,’’ tuturnya sembari mempraktikkan.



Satu miniatur truk dijual dengan harga berbeda. Mulai Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, hingga Rp 200 ribu per unit. ’’Harganya sesuai ukuran dan kerumitannya. Pemasarannya sampai Malang, Pasuruan, dan Surabaya. Ya, lingkup Jatim saja,’’ jelasnya. Sayang, minimnya modal usaha rumahan yang dilakoni Agus belakangan menjadi kendala dalam mengembangkan sayap ke pasar yang lebih luas.



Apalagi, dengan zaman yang kian modern seperti sekarang. Tak sedikit masyarakat lebih memilih meninggalkan permaian tradisional berbahan baku kayu dan beralih ke produk pabrikan atau game.



’’Tapi, itu bukan masalah serius. Tinggal bagaimana kita mengemas kerajian agar lebih menarik dan memiliki daya jual,’’ terangnya.



Agus berharap ada suntikan modal dari pemerintah atau pihak lain yang peduli dengan usaha rumahan yang dilakoninya sejak 2011. ’’Sebenarnya ingin buat miniatur bus dan sejenisnya, tapi modalnya belum dapat,’’ ujarnya. (ris/c21/end)


Editor: Miftakhul F.S
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore