
Staf Ahli Menteri Agama Prof Oman Fathurahman. (Hilmi Setiawan/Jawa Pos)
PERJALANAN ibadah haji dari Nusantara dimulai jauh sebelum Indonesia lahir. Sejumlah manuskrip kuno menunjukkan adanya perjalanan haji sejak abad ke-15 dari tanah Jawa menuju Makkah. Berikut perbincangan wartawan Jawa Pos M. Hilmi Setiawan dengan ahli manuskrip kuno sekaligus Staf Ahli Menteri Agama Prof Oman Fathurahman di Makkah kemarin (30/7).
---
Sejak kapan ada perjalanan haji dari Indonesia?
Sejumlah manuskrip menunjukkan bahwa perjalanan haji dari Nusantara sudah ada setidaknya pada abad ke-15. Manuskrip Hikayat Hang Tuah adalah contohnya. Namun, sebagian kisah haji itu lebih bersifat mitos ketimbang fakta sejarah karena belum bisa dibuktikan.
Catatan haji yang lebih bersifat faktual mulai dijumpai dalam teks asal abad ke-16 dan ke-17, seperti Sajarah Banten dan Babad Kraton. Perjalanan haji sebelum ada mesin uap itu dilakukan dengan berbagai cara. Mulai jalan kaki dari Jawa, berkuda, jalan darat, melewati sungai, gunung, hutan belantara, hingga lautan samudra. Waktu tempuhnya berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun untuk sampai di Makkah.
Babad Nitik Sultan Agung juga menyinggung cerita mitologis Sultan Agung yang sering berkunjung ke Makkah dan bahkan membawa pulang sebagian tanah dari Makkah ke Jawa. Sesampai di Jawa, tanah itu dilemparkan dan jatuh di lokasi yang sekarang menjadi tempat pemakaman keluarga Sultan Agung. Sekarang titik tersebut dikenal dengan Imogiri.
Dari aspek sejarah, apa motivasi ibadah haji orang Indonesia?
Ada empat aspek yang mendorong orang Nusantara naik haji: ibadah, ziarah, tijarah (dagang), dan rihlah ilmiah (perjalanan mencari ilmu). Meski bersusah payah dan dengan biaya mahal, sejak dulu muslim Nusantara sangat antusias pergi ke Tanah Suci karena Makkah diyakini sebagai kota suci yang memiliki nilai spiritual, teologis, dan sosial yang sangat tinggi. Bagi para sultan dan penguasa negeri, pergi haji bahkan menjadi tambahan legitimasi.
Dulu aspek rihlah ilmiah sangat menonjol. Pada abad ke-17, Syekh Abdurrauf Singkel Aceh tinggal di Makkah selama 19 tahun untuk haji dan belajar ilmu agama. Pada abad ke-19, kita punya kisah Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, dan Kiai Kholil Bangkalan dari Jawa, atau Tuan Guru Abdul Majid dari Lombok.
Dari aspek bimbingan ibadah, apa yang ditekankan Kemenag?
Menekankan agar pelaksanaan fikih ibadah haji diselaraskan dan diseimbangkan dengan situasi teknis di lapangan. Tingkat kepadatan jamaah haji masa lalu dan kini jauh berbeda. Untuk melaksanakan tawaf, sai, wukuf, dan melempar jumrah, jamaah haji Indonesia tidak cukup dibekali manasik haji, tetapi juga wawasan bagaimana teknis melaksanakannya di tengah jutaan jamaah haji lain yang badannya lebih besar.
Bimbingan ibadah diberikan dengan prinsip memberikan kemudahan. Para konsultan ibadah membimbing jamaah untuk mengetahui berbagai alternatif pelaksanaan fikih dan manasik haji agar mereka bisa menyesuaikan dan dalam situasi tertentu tidak menyulitkan. Itu merupakan bagian dari semangat moderasi dalam beragama.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
17 kuliner Legendaris di Surabaya yang Wajib Dicicipi Sekali Seumur Hidup!
10 Kebab Paling Enak di Jakarta, Kuliner Timur Tengah yang Cita Rasanya Autentik
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
